Studi Lapangan Vistrasaka: Kunjungan ke Akmil dan TPS Brama Muda
Penulis: Aqila Aisyamira dan Aisyah Nurfitria
Dalam rangka kegiatan studi lapangan ke Yogyakarta, siswa kelas XI SMA Labschool Kebayoran mengunjungi Akademi militer (Akmil) yang terletak di Magelang dan TPS 3R Brama Muda yang terletak di Dayakan. Kunjungan ini tentu menjadi salah satu kesempatan untuk mengetahui apa yang siswa perlu persiapkan untuk dapat diterima ke dalam Akmil dan melihat secara langsung bagaimana pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berjalan secara efektif.
Pagi hari setelah siswa dan siswi angkatan Vistrasaka tiba di Yogyakarta dan sarapan, semua bersiap naik ke bis untuk berangkat menuju Akademi Militer yang berada di kota Magelang. Suasana di sana penuh dengan pepohonan yang rindang dan rumput-rumput hijau, serta tempat yang luas. Meskipun kata ‘Akademi Militer’ terdengar seperti tempat yang ketat dan kaku untuk beberapa orang, lingkungannya terasa tertib dan menjunjung tinggi kedisiplinan.

Setibanya bis di lokasi, siswa siswi diarahkan menuju tribun di lapangan Sapta Marga untuk sesi sharing. Sesi sharing dipaparkan oleh Kapten Infantri Athor, di mana beliau menjelaskan mengenai Akmil mulai dari seleksi penerimaan calon taruna hingga keseharian para Taruna di Akademi Militer.
Sesi sharing diawali dengan perkenalan lingkungan dan fasilitas yang tersedia di lokasi Akmil. Selain itu, dijelaskan juga bahwa tempat Akmil berada di bawah wewenang Kementrian Pertahanan RI yang operasionalnya dibantu oleh TNI Angkatan Darat. Di sana, terdapat 5 prodi yang salah satunya adalah bagian teknik sipil pertahanan dan administrasi pertahanan.
Untuk menjadi seorang Taruna -sebutan untuk orang yang diterima di Akmil- ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Yang pertama adalah fisik. Calon Taruna yang diseleksi akan di tes kemampuan fisiknya seperti tes berlari, pull up, push up, dll. Tidak hanya itu, kemampuan akademik juga menjadi pertimbangan dalam penilaian, juga hasil kesehatan dan psikotes. Calon Taruna pun perlu mencetak surat keterangan pada polres atau polsek yang menerangkan bahwa tidak pernah melakukan tindak kejahatan atau kriminalitas. Siswa dan Siswi angkatan Vistrasaka yang ingin diterima menjadi Taruna tentu harus mempersiapkan diri mulai dari sekarang untuk meningkatkan kemampuan fisik dan akademiknya, serta kedisiplinannya. Di akhir, terdapat sesi tanya jawab, di mana para siswa dan siswi berkesempatan untuk bertanya kepada Kapten infantri Athor.

Kunjungan ke Akademi Militer diakhiri dengan kunjungan ke Museum Taruna Abdul Djalil yang mengedukasikan tentang sejarah perjuangan dan pendidikan calon perwira TNI AD.

Berikutnya, siswa dan siswi angkatan Vistrasaka pergi menuju tempat pengelolaan TPS yang salah satunya adalah TPS 3R Brama Muda. Kegiatan diawali dengan pemaparan dari pengelola TPS mengenai latar belakang terbentuknya TPS 3R Brama Muda. Berangkat dari keresahan warga terhadap permasalahan sampah di lingkungan sekitar, sekelompok anak muda berinisiatif untuk menciptakan perubahan. Inisiatif tersebut kemudian berkembang menjadi sistem pengelolaan sampah terpadu yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Di TPS ini, sampah dari setiap rumah tangga dikumpulkan dan dikelola secara terorganisir. Sampah organik, seperti sisa makanan dan sayuran, diolah menjadi kompos. Selain itu, terdapat pula pemanfaatan sampah sebagai pakan maggot yang kemudian digunakan untuk kebutuhan perikanan. Sistem ini menunjukkan bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan guru SMA Labschool Kebayoran, serta pemaparan program kerja “Sort n Go” oleh perwakilan siswa bidang Kesehatan Masyarakat. Program ini berfokus pada pengumpulan sampah plastik untuk kemudian disalurkan dan dikelola lebih lanjut. Sebagai bentuk apresiasi, dilakukan pula penyerahan cinderamata dari pihak sekolah kepada pengelola TPS 3R Brama Muda.

Untuk memberikan pengalaman yang lebih mendalam, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan mengikuti workshop di tiga pos yang berbeda.
Pada Pos 1, peserta mempelajari proses pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos menggunakan media ember bertumpuk. Sisa sayur dan buah dimasukkan ke dalam ember, kemudian ditambahkan arang sekam sebagai penyerap air serta aktivator untuk mempercepat proses penguraian. Dengan pemantauan rutin, kompos dapat dihasilkan dalam waktu sekitar tiga minggu.
Di Pos 2, kegiatan dipandu oleh Pak Supriyadi yang menjelaskan sekaligus mempraktikkan pembuatan mikroorganisme lokal (MOL) atau dekomposer. Bahan yang digunakan tergolong sederhana, seperti ragi tempe, ragi tapai, tetes tebu atau gula jawa, terasi, Yakult, dan air. Seluruh bahan difermentasi dalam wadah tertutup selama kurang lebih dua minggu. Proses ini menghasilkan larutan yang dapat mempercepat penguraian sampah, mengurangi bau, serta mencegah munculnya lalat.

Sementara itu, di Pos 3, peserta mengamati alur pengelolaan sampah dari rumah tangga hingga tahap akhir. Sampah yang telah dikumpulkan akan dipilah untuk mengambil material bernilai seperti plastik, logam, dan benda keras lainnya. Mesin kemudian memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah plastik dimanfaatkan sebagai bahan energi alternatif untuk industri semen, sedangkan sampah organik digunakan sebagai pakan maggot.
Kunjungan ke TPS 3R Brama Muda memberikan wawasan baru tentang cara mengelola sampah secara efektif dan berkelanjutan. Proses pengolahan mulai dari pemilahan, pembuatan kompos, hingga pemanfaatan sampah plastik dan organik menunjukkan bahwa sampah bukan sekadar barang yang dibuang, tetapi bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna. Usaha para pengelola dan pemuda penggerak TPS menjadi contoh nyata bahwa perubahan positif bisa dimulai dari lingkungan sekitar. Kegiatan ini sekaligus mengingatkan pentingnya kesadaran dan partisipasi setiap individu dalam menjaga kebersihan serta mendukung pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

