Sehelai Kain, Sejuta Cerita dari Giriloyo
Penulis: Kilau Kinasih Putri K.

Hari Jumat yang terik itu menandai hari terakhir petualangan angkatan Vistrasaka di Yogyakarta. Setelah menyantap sarapan kilat di hotel, sekitar 300 murid segera bergegas berangkat dengan bus yang sudah siap siaga menunggu diisi tawa mereka. Tujuannya? Kampung Batik Giriloyo, Desa Wukirsari, tempat para murid akan mendapatkan satu pengalaman terakhir yang tak terlupakan dari rangkaian studi lapangan ini.
Sesampainya di sana, Vistrasaka disambut ramah oleh belasan pembatik lokal yang akan memandu para murid selama beberapa jam ke depan. Acara dimulai dengan sepatah sambutan dan pemaparan dari Ibu Wasiatun, salah satu pengurus Kampung Batik Giriloyo. Setiap anak pun duduk menyimak dengan antusias, diliputi rasa penasaran akan apa yang akan mereka lakukan setelah ini.
Seusai sambutan ditutup, kegiatan yang telah ditunggu-tunggu pun dimulai. Para murid dipersilakan menuju area belakang aula tempat pemaparan. Di sana, berdiri sejumlah gazebo kecil beralas keramik yang kokoh, lengkap dengan peralatan membatik, kursi-kursi kayu mungil, dan seorang pembatik yang duduk menanti dengan senyuman hangat. Setiap anak dibebaskan untuk memilih gazebo tempat mereka akan mempelajari salah satu kesenian tertua warisan budaya Jawa.
Sang pembatik, yang kini telah dikelilingi oleh para pelajar penuh semangat, membagikan secarik kain persegi dengan sketsa sederhana bercorak batik serta papan kayu untuk mengalasinya. Satu untuk setiap anak. Tak lupa dengan canting, alat serupa pena untuk menggoreskan malam di atas kain yang telah diberikan. Masing-masing pendopo kini telah dipenuhi dengan empat hingga lima murid yang duduk melingkar, siap dengan senjatanya, dengan sebuah kendi tanah liat berisi lilin panas yang akrab disebut malam di tengahnya.
Dengan lembut, para pembatik pun mulai menerangkan tata cara membatik yang telah mereka pelajari sedari dini. Mulai dari cara mengambil malam dengan canting hingga arah kemiringan canting saat menebalkan garis sketsa. Semuanya dilakukan dengan perlahan, tanpa tergesa. Pelan, tetapi pasti. Sembari anak-anak mulai hanyut dalam dunia lilin malam, para pembatik memperhatikan mereka dengan saksama. Sesekali, mereka melontarkan satu-dua pertanyaan mengenai perjalanan Vistrasaka di Yogyakarta. Di sisi lain, anak-anaklah yang justru banyak bertanya tentang kehidupan para pembatik yang membimbing mereka.
Salah satu pembatik yang turut berbagi kisah hidupnya adalah seorang perempuan lanjut usia yang akrab disapa Bu Ayuningsih. Dengan rendah hati, beliau bertutur bahwa ia telah belajar membatik sejak bangku kelas satu SD. “Ibunya ibu juga pembatik,” ujarnya ketika ditanya alasan menekuni profesi tersebut. Bu Ayuningsih menjelaskan bahwa dusun asalnya, yaitu Dusun Karang Kulon, merupakan salah satu wilayah yang melahirkan banyak pembatik mahir. Tak sedikit pembatik di Kampung Batik Giriloyo berasal dari Dusun Karang Kulon, bersama pembatik lain dari Dusun Cengkehan dan Giriloyo. “Di sini pembatiknya sudah sampai puluhan, Mbak, jauh meningkat dari tiga tahun yang lalu,” ucapnya.
Batik sendiri merupakan tradisi kesenian yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak abad ke-17 yang berakar dari para abdi dalem Keraton Mataram Islam di sekitar kawasan Imogiri. Kesenian ini terus bertahan melalui pengetahuan yang diajarkan dari para orang tua kepada generasi berikutnya hingga menjadi bagian dari budaya keseharian masyarakat.
Kampung Batik Giriloyo, sebagai salah satu sentra batik tulis terbesar di Yogyakarta, terkenal akan komitmennya dalam menjaga pakem batik tulis klasik khas daerah tersebut. Hal inilah yang mendorong Bu Ayuningsih untuk terus berkarya sebagai pembatik di sana. “Ibu nggak mau batik punah, apalagi batik tulis. Harapannya, dengan jadi pembatik di sini, Ibu bisa mengajarkan ilmu membatik ke banyak orang,” tuturnya dengan senyum tipis penuh tekad.
Melalui kegiatan ini, para murid tidak hanya mempelajari teknik membatik secara langsung, tetapi juga memahami nilai kesabaran, ketelitian, serta pentingnya melestarikan warisan budaya lokal yang telah ada selama berabad-abad. Tak sedikit murid yang baru pertama kali mencoba membatik hari itu. Apa yang semula terlihat sederhana, ternyata menuntut ketelitian, kesabaran, dan kontrol tangan yang tidak mudah.
“Awalnya aku kira bakal gampang, tapi ternyata susah banget jaga garisnya biar tetap rapi. Jadi makin kagum sama pembatik, sih,” ujar Keya, salah satu murid Vistrasaka.
Setelah proses membatik selesai, kain-kain yang telah dihias tidak langsung dibawa pulang. Para pembatik terlebih dahulu membantu menebalkan kembali garis-garis pada bagian belakang kain agar warna dapat meresap dengan sempurna saat proses pewarnaan. Selanjutnya, kain dicelupkan ke dalam larutan pewarna, lalu dijemur di area terbuka di atas hamparan rumput Kampung Batik Giriloyo. Deretan kain yang terbentang dan dikeringkan di bawah sinar matahari menjadi pemandangan tersendiri, sekaligus memperlihatkan hasil karya para murid kepada siapa pun yang melintas. Nantinya, kain-kain tersebut akan dikirimkan ke sekolah setelah seluruh proses selesai.
Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB. Matahari kini telah memanjat jauh hingga berada tepat di atas kepala, mengeluarkan cahaya panas yang menyengat. Rangkaian kegiatan membatik yang dimulai sejak pukul 09.30 WIB pun berakhir. Kain-kain putih yang tadinya hanya berisi sketsa sederhana kini telah dipenuhi dengan corak indah yang intrik dengan warna kecokelatan dari malam yang mengering. Tergambar raut puas di wajah para murid Vistrasaka, meski dihiasi bulir keringat di sepanjang pelipis mereka.
Perut yang kembali terisi usai santap siang menjadi penutup kegiatan hari itu. Tak lama setelahnya, rombongan bersiap meninggalkan Giriloyo untuk menuju Malioboro, melanjutkan perjalanan dengan agenda terakhir sebelum kembali ke Jakarta. Namun lebih dari sekadar perjalanan, para murid membawa pulang pengalaman, cerita, dan apresiasi baru terhadap warisan budaya yang telah mereka rasakan secara langsung.
