Kupas Tuntas Dapur Kumparan, Rahasia Media Ini yang Dipelajari SkyPress!
Penulis: Zyta Zhafif Z. R. dan Ghiffari A. Musyaffa

Tidak banyak yang menyangka bahwa sebuah grup komunikasi daring dapat menyelamatkan hidup seseorang. Namun, itulah yang terjadi ketika seorang perempuan, dalam ketakutan dan keputusasaan, mengirimkan pesan ke komunitas Kumparan WOMAN. Keputusan sederhana itu menjadi titik balik yang membantunya keluar dari situasi yang sebelumnya membelenggu, berkat kuatnya dukungan dari sebuah komunitas.
Kisah tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kumparan, sebagai media berita, tidak hanya berfungsi sebagai ruang berbagi informasi faktual, tetapi juga mampu membangun komunitas yang benar-benar memberi dampak nyata.
Sebagai bagian dari pembelajaran luar ruang, klub jurnalistik SkyPress dari SMA Labschool Kebayoran kembali mengadakan kunjungan belajar atau media visit semesterannya pada Selasa (5/6). Dalam kesempatan ini, SkyPress mengunjungi kantor kumparan untuk mempelajari praktik jurnalistik secara langsung dari para profesional di bidangnya.
Di tengah arus perkembangan jurnalisme yang bergerak cepat mengikuti dinamika zaman, kunjungan ini bertujuan untuk memahami bagaimana sebuah agensi media beradaptasi terhadap perubahan tersebut – salah satunya, kumparan. Setibanya di lokasi, anggota SkyPress yang terdiri dari siswa kelas X dan XI disambut baik oleh tim kumparan dengan senyuman ramah. Antusiasme tergambar jelas di wajah mereka, tak sabar menanti keasyikan kunjungan yang telah lama dinantikan.
Acara dibuka dengan perkenalan hangat dari tiga pembicara utama yang akan mengisi sesi berbagi (sharing session), yakni Kak Radit dari tim corporate communications kumparan, Kak Gerry Andreas selaku jurnalis peliput berita internasional, serta Kak Gadi M. Kurniawan sebagai Managing Editor dari kanal On The Wave. Ketiganya hadir dengan latar belakang dan spesialisasi yang berbeda, memberikan perspektif yang beragam mengenai dunia jurnalistik.
Seusai perkenalan diri, Kak Radit mulai memperkenalkan kumparan secara lebih mendalam, mulai dari prinsip dasar yang dipegang teguh kumparan sejak awal berdiri hingga berbagai pencapaian yang telah diraih.
Sejak didirikan pada 2017, kumparan telah menerbitkan jutaan artikel, menghadirkan beragam cerita, serta aktif membuka ruang diskusi publik melalui berbagai program dan komunitas. Seluruh upaya tersebut berpijak pada tiga pilar utama, yaitu:
- Excellence in journalism, yang menekankan pentingnya kredibilitas dan kepercayaan, yang salah satunya tercermin dari sertifikasi Dewan Pers yang dimiliki seluruh jurnalisnya.
- Excellence in storytelling, yang berfokus pada penyampaian cerita yang relevan dan mampu membangun keterhubungan dengan audiens melalui berbagai kanal.
- Excellence in technology, yang menggarisbawahi pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan media sosial seperti Instagram dan TikTok sebagai medium distribusi konten.
Dalam pemaparannya, Kak Radit juga menyoroti pentingnya menjaga ruang diskusi langsung di tengah dominasi media sosial. Berangkat dari hal tersebut, kumparan menghadirkan berbagai program dan inisiatif yang mempertemukan publik, industri, akademisi, hingga pemerintah dalam satu ruang dialog.
Salah satu contohnya adalah The Economic Insights, yang membahas arah serta peluang ekonomi Indonesia bersama para pakar. Selain itu, kumparan juga konsisten menyelenggarakan Festival Hari Anak tiap tahunnya sebagai bentuk apresiasi terhadap generasi muda.
Ruang interaksi ini semakin dihidupkan melalui komunitas teman kumparan yang memiliki fokus beragam, mulai dari Running Club, Gen Z, WOMAN, Campus, hingga Padel Club. Kehadiran komunitas ini tidak hanya memperluas jangkauan audiens, tetapi juga membangun kedekatan yang lebih personal dan kolaboratif antara media dan masyarakat.
Memasuki sesi berikutnya berupa ‘Journalism 101’, Kak Gerry Andreas mengajak anggota SkyPress untuk lebih memahami strategi dalam menentukan topik berita. Ia membuka diskusi dengan meminta beberapa peserta untuk membagikan ide yang menurut mereka layak diangkat.
Dua siswa, Dhiyaa dan Naura, kemudian maju ke depan. Dhiyaa mengangkat topik permainan daring, sementara Naura tertarik pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program inisiatif pemerintah Indonesia yang baru diluncurkan di awal tahun ini. Alih-alih langsung menilai, Kak Gerry justru menggali lebih dalam alasan di balik pemilihan topik tersebut. Ia menanyakan seberapa relevan isu tersebut bagi audiens, serta seberapa besar urgensinya untuk diangkat menjadi berita.

Ternyata, pertanyaan yang dilontarkan Kak Gerry bukan tanpa alasan. Dari diskusi itu, peserta diperkenalkan pada konsep news value, yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan kelayakan suatu peristiwa untuk diberitakan. Terdapat enam unsur utama dalam news value, yaitu:
- Timeliness (aktualitas): kecepatan penyampaian informasi.
- Magnitude (pengaruh): dampak sebuah peristiwa untuk masyarakat.
- Prominence (ketokohan): adanya figur atau tokoh publik yang terlibat.
- Oddity (keanehan): semakin ganjil suatu peristiwa maka lebih tinggi potensinya untuk menarik perhatian calon pembaca.
- Controversy (konflik): atau pertentangan yang signifikan.
- Human Interest: keterkaitan manusia atau relatedness, yang menyentuh sisi emosional pembaca dan memperkuat kedekatan dengan mereka.
Selain itu, Kak Gadi menekankan bahwa sebagai jurnalis, ketaatan terhadap kode etik jurnalistik maupun pedoman komunitas (community guidelines) di media sosial wajib hukumnya dipegang teguh sebagai landasan dalam berkarier dan berkarya.
Ia menyoroti beberapa prinsip penting, seperti tidak mengungkap identitas korban kejahatan susila, tidak menyiarkan berita berbasis prasangka atau diskriminasi, serta menjaga hak privasi narasumber.
Kak Gerry kemudian menimpali hal tersebut dengan membagikan pengalamannya sebagai wartawan di lapangan. Ia menjelaskan bahwa tidak semua informasi yang diperoleh harus dipublikasikan. “Jurnalis punya tanggung jawab untuk memilah. Tidak semua yang kita ketahui perlu disampaikan ke publik, karena narasumber juga memiliki hak atas batasan informasi,” jelasnya.
Dalam segmen ini pula, kedua pembicara juga membagikan berbagai tips dalam menyusun, memproduksi, hingga mempublikasikan konten, baik dalam bentuk artikel maupun konten media sosial. Sesi ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian peserta. Tak sedikit gumaman “Ooh, jadi begitu..” dan “Ah, aku jadi paham sekarang!” yang terdengar, maupun pertanyaan demi pertanyaan penuh semangat yang dilontarkan langsung kepada para pembicara.
Sebagai akhir dari sesi berbagi, Kak Gadi memperkenalkan kanal terbaru yang di bawahinya: On The Wave, segmen media sosial kumparan yang berfokus pada keseruan dan tren di kalangan remaja, khususnya siswa SMA.
Eits, media visit ini tidak berhenti di sana. Kegiatan berlanjut ke sesi ulasan karya, di mana anggota SkyPress diberi kesempatan untuk menampilkan hasil karya jurnalistik mereka, mulai dari artikel di situs SkyPress hingga terbitan majalah Labzine edisi terbaru, yaitu yang ke-41.
Di sinilah antusiasme anggota SkyPress memuncak. Tiap murid berlomba-lomba agar artikel tulisannya diulas dan dibaca dengan berseri-seri. Dengan energi yang tak kalah tingginya, ketiga pembicara pun memberi berbagai tanggapan konstruktif dengan senang hati.
“Wah, tidak menyangka klub jurnalistik zaman sekarang masih ada yang memproduksi majalah fisik. Jadi teringat masa sekolah dulu,” tawa Kak Gerry saat menggenggam Labzine di tangannya.
Menjelang akhir acara, kegiatan ditutup dengan penyerahan cenderamata dan foto bersama. Labzine edisi ke-41 yang mengangkat tema “Pop Culture of the 2000s” diserahkan kepada pihak kumparan sebagai bentuk apresiasi.
Kunjungan ini diharapkan tidak hanya menjadi pengalaman sesaat, tetapi juga menjadi bekal yang dapat diterapkan dalam proses berkarya ke depannya. Salah satu peserta, Dheera, siswi kelas XI, menyampaikan kesannya, “Kunjungan ini benar-benar membuka perspektif baru buatku. Aku jadi lebih paham bagaimana proses jurnalistik berjalan, dan rasanya jadi semakin termotivasi untuk terus belajar dan berkembang.”
Pengalaman ini mengubah cara pandang terhadap jurnalisme, bahwa setiap berita lahir dari proses panjang dan pilihan yang tidak selalu mudah. Hari itu, para anggota SkyPress kembali dengan sebuah pelajaran baru yang tak terlupakan: bahwa setiap gores cerita memiliki bobotnya tersendiri. Tak hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipertanggungjawabkan.

No Comment