Merajut itu hobi nenek-nenek? Salah besar!
Penulis: Rania Muthiah
Kata orang-orang, merajut umumnya dilakukan oleh seorang nenek-nenek. Meski begitu, barang hasil rajutan umumnya memiliki nilai jual yang tinggi dan penuh estetika, contohnya tas, dompet, bahkan sampai jaket. Tahu tidak, bahwa kegiatan yang dahulu menjadi stigma itu kini justru banyak dilakukan oleh anak muda? Ya, kalian tidak salah baca, anak muda! Masa kini, barang hasil rajutan kembali mulai digemari oleh masyarakat, khususnya Generasi Z. Tak hanya itu, banyak anak muda mulai dari anak kecil sampai remaja mulai mencoba untuk melakukan kegiatan merajut.

Dok: Pinterest
Tapi, sebenarnya merajut itu apa, sih? Merajut adalah sebuah teknik membuat kain, pakaian, atau perlengkapan busana dari benang rajut dengan bantuan dua atau lebih jarum khusus yang disebut dengan breien. Berbeda dengan menenun, merajut dilakukan dengan cara memanipulasi sehelai benang hingga membentuk rangkaian simpul yang saling mengunci. Hasil dari rajutan sendiri memiliki elastisitas yang lebih tinggi dibanding tenun. Seiring berkembangnya zaman, merajut saat ini menjadi hobi kreatif yang disukai untuk menghabiskan waktu luang. Tak hanya itu, hasil dari rajutan ini tidak lagi sebatas pakaian, tetapi juga boneka, tas, hingga aksesoris.

Dok: Pinterest
Sejarah merajut diyakini berasal dari wilayah Timur Tengah sekitar abad ke-5, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh dunia melalui jalur perdagangan. Bukti arkeologis tertua yang ditemukan berupa kaus kaki katun dengan desain rumit dari Mesir, yang menunjukkan bahwa teknik ini sudah sangat maju pada masa awal kemunculannya. Di Eropa, merajut juga sempat menjadi industri besar yang didominasi oleh kaum pria melalui serikat perajut profesional sebelum akhirnya lebih dikenal sebagai aktivitas rumah tangga. Dan hebatnya, pada masa Perang Dunia, kegiatan merajut bahkan menjadi gerakan patriotik di mana masyarakat membuatkan pakaian hangat secara massal untuk para tentara di garis depan. Kini, merajut terus berevolusi menjadi bagian dari seni tekstil modern dan budaya populer yang digemari oleh berbagai lintas generasi di seluruh dunia.
Tetapi jangan salah, merajut bukanlah hal mudah. Karena merajut membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi dan keterampilan yang tidak dapat dicapai dengan instan. Namun, justru itu adalah tantangan yang membuat merajut asyik dan bermanfaat! Selain itu, apa saja, sih, manfaat mengasah skill merajut sejak dini?
1. Melatih kemampuan motorik halus
Secara harfiah, motorik halus adalah kemampuan yang menggunakan otot-otot kecil, seperti jari-jemari dan tangan, yang terkoordinasi dengan mata untuk melakukan gerakan yang presisi dan teliti. Hal tersebut selalu dilakukan oleh seorang perajut yang harus fokus terhadap benang dan jarum yang akan dikaitkan. Dengan terus melakukannya berulang kali, secara tak langsung, semakin lama kemampuan motorik sang perajut akan meningkat.
2. Melatih kontrol emosi atau stress
Pada saat merajut, perajut cenderung akan berfokus pada pekerjaan tangannya dan tidak lagi terlalu banyak memikirkan hal lain. Selain itu, beberapa orang pun menganggap bahwa merajut merupakan salah satu cara bermeditasi.
3. Mampu membuat barang karya sendiri
Pada zaman modern ini, segalanya bisa menjadi ladang bisnis, tak terkecuali produk rajutan. Kini, barang hasil rajutan memiliki nilai jual yang sangat tinggi, dikarenakan nilainya sebagai produk buatan tangan (handmade) yang begitu rapi dan berestetika. Dengan kembalinya minat terhadap barang hasil rajutan, kesempatan anak-anak muda untuk mengeksplor dan membuka bisnis sendiri pun meningkat pesat.
Oleh karena itu, stigma bahwasanya merajut adalah kegiatan yang hanya dilakukan oleh kalangan lanjut usia, sudah tidak berlaku lagi. Nyatanya, merajut adalah kegiatan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Baik anak muda, paruh baya, laki-laki, maupun perempuan. Dengan kemampuan merajut, tak hanya kemampuan motorik halus yang dapat ditingkatkan, tetapi juga membuka lebar peluang penghasilan.
