‘Cukup Aku Aja yang Jadi WNI. Anakku Jangan’
Penulis: Shafwah Khaldaa Perkasa
Akhir-akhir ini, berita negatif bertebaran menyelimuti ruang publik Indonesia. Bermula dari kasus Beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) hingga pembunuhan rakyat sipil oleh polisi. Berbagai kritik yang dilayangkan kepada pemerintah, yaitu pengelolaan dana MBG (Makan Bergizi Gratis), kesejahteraan tenaga pendidik dan kesehatan, serta sebagainya. Belum lagi dengan keadaan sosial-politik dunia yang tidak stabil dan tidak menentu, dengan adanya BOP (Board of Peace) serta bisik-bisik wacana WW III (Perang Dunia Ketiga).


Di tengah kelamnya isu nasional dan internasional, wajar jika muncul pertanyaan: “Apakah menjadi WNI (Warga Negara Indonesia) masih menjadi hal yang membanggakan?”
Namun, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita berhenti sejenak dan mendinginkan kepala. Karena pada dasarnya, Indonesia masih menjadi rumah yang hangat, dipenuhi dengan budaya gotong royong, warisan adat, dan keberagaman masyarakat yang luar biasa lekat dengan identitas kita sebagai Bangsa Indonesia.
Melalui artikel ini, kita akan melihat kembali warisan budaya Indonesia, mulai dari budaya yang berusia ratusan tahun lalu hingga ekspresi kreatif yang disampaikan generasi hari ini. Hal ini dapat mengingatkan kita bahwa menjadi WNI masihlah menjadi hal yang membanggakan.
Gotong Royong. Tradisi ini bukan hanya angkat-angkat kursi saat hajatan, tetapi kebiasaan untuk hadir dan saling membantu saat ada yang membutuhkan. Kerja sama dan kerja ikhlas yang tentunya tanpa pamrih maupun kontrak, serta tanpa harus diminta. Kehangatan masyarakat terwakilkan dengan baik dengan adanya budaya ini.
Musyawarah. Dari rapat RT hingga diskusi keluarga di ruang tamu, duduk bersama untuk berdiskusi dan mencari jalan keluar sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Mungkin terdengar tidak efisien secara waktu, tetapi ada nilai keadilan dan usaha untuk mendengar sebelum memutuskan.
Mudik dan Silaturahmi. Tradisi ini lekat di kehidupan, terutama bagi masyarakat Indonesia yang beragama Muslim. Mudik menjelang lebaran Idul Fitri dan Idul Adha sudah menjadi makanan wajib setiap tahunnya. Namun, menjaga silaturahmi (persaudaraan dan persahabatan) tidak terbatas untuk etnis dan kaum mana pun.
Gerakan #WargabantuWarga. Jika dahulu ada gotong royong yang terdengar lebih sederhana dan tradisional, generasi masa kini melakukan perpanjangan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan media sosial. Persebaran informasi hingga penggalangan dana, semua dilakukan melalui media sosial.
Kampanye #Localpride. Industri kreatif dan ekonomi lokal mulai melebarkan sayapnya hingga ke kancah internasional. Bermula dari UMKM kecil, pasar lokal sedang marak pembeli. Kesadaran kolektif untuk ikut meramaikan produk lokal ini juga menjadi salah satu bentuk solidaritas antarwarga Indonesia.

Beberapa budaya dan warisan Indonesia lainnya yang terbukti sudah mengharumkan nama bangsa adalah: (1) Batik, telah diakui UNESCO sejak 2009 dan membawa filosofi hidup yang diwariskan lintas generasi; (2) Wayang, diakui UNESCO sejak 2003 dan menjadi salah satu bentuk kritik sosial dalam budaya kita; (3) Raja Ampat, destinasi wisata terkemuka dengan keanekaragaman hayati laut yang tinggi dan pemandangannya yang fantastis; (4) Labuan Bajo, menjadi gerbang menuju gugusan pulau dan laut Flores yang keindahannya menyejukkan mata wisatawan lokal maupun asing; dan (5) Mie Ayam, hasil akulturasi budaya yang sederhana dan terjangkau, namun tetap menghangatkan.

Mungkin kebanggaan itu memang tidak selalu lantang dan terkadang hanya hadir dalam hal-hal sederhana yang sering dianggap biasa. Maka dari itu, sebelum berkata, “cukup aku saja yang jadi WNI,” dan merendahkan bangsa sendiri, ada baiknya kita mengingat kembali bahwa identitas kita sebagai bangsa Indonesia tidak terbentuk oleh masalah semata, tetapi juga oleh budaya dan keanekaragaman yang diwariskan.
