SkyMUN 2026, As It Happened

SkyMUN 2026, As It Happened

Penulis: M. Nur Fikri, Kilau Kinasih P. K.

Jakarta, 11 April 2026 — Pagi itu, Hall Basket SMA Labschool Kebayoran terasa berbeda. Asing, namun menyegarkan. Alih-alih suara pantulan bola yang biasa menggema, kini ruangan luas itu dipenuhi suara derap langkah ratusan remaja berpakaian formal. Beberapa dari mereka berdiri di sudut ruangan sambil menghafal poin terakhir. Ada yang duduk berkelompok, saling bertukar sapa dan berkenalan. Ada juga yang memilih diam, membaca ulang posisi negara yang akan mereka bawa. Semua orang datang dengan peran, dengan kepentingan, dan dengan sesuatu yang ingin mereka perjuangkan.

Hari itu menandai dimulainya Labsky Model United Nations (SkyMUN), atau yang biasa dikenal sebagai simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (Model United Nations) yang berbentuk kompetisi. Dalam forum yang berlangsung selama dua hari ini, pelajar tidak hanya akan mempelajari isu global, tetapi mencoba berdiri di dalamnya. Mereka mewakili negara, menyusun sikap, lalu mempertahankannya di hadapan forum. Prosesnya pun kompleks dan penuh dinamika. Perbedaan pendapat, tekanan waktu, serta momen-momen ketika argumen sendiri dipatahkan, menjadi tantangan tersendiri bagi para pesertanya. 

Pembukaan acara dimulai pada pukul 08.30 WIB dengan sambutan dari Safina Zahra Sungkar sebagai Wakil Ketua Pelaksana (Deputy Secretary General). Ia menekankan satu hal yang sederhana, namun esensial. Yaitu bagaimana keutamaan dari MUN bukanlah soal siapa yang paling banyak bicara, tetapi sebesar apa pengaruh yang tercipta dari apa yang disampaikan. Sebuah pesan yang sangat relevan, mengingat ragam diskusi dua hari ke depan yang akan menuntut lebih dari sekadar keberanian angkat tangan.

Dukungan sewarna juga datang dari Prof. Dr. Budiman, M.Si. dari BPS Labschool UNJ dan Bapak Suparno, S.Pd., M.M. selaku Kepala SMA Labschool Kebayoran. Keduanya melihat forum ini sebagai ruang latihan yang nyata. Tempat di mana peserta harus berpikir dan mengambil sikap di tengah sudut pandang yang tidak selalu sejalan.

Salah satu momen paling menarik dalam sesi pembukaan adalah kehadiran Jurnalis Valeria Daniel. Beliau memaparkan materi krusial mengenai komunikasi dan berbicara di depan umum. Mengingat inti dari SkyMUN adalah diplomasi antarnegara anggota, tips dari Valeria menjadi bekal berharga bagi para delegasi sebelum mereka terjun ke konferensi masing-masing.

Tak hanya itu, SkyMUN tahun ini terasa semakin prestisius dengan adanya sambutan dari tokoh-tokoh internasional dan nasional, seperti:

  • Ms. Ninebeth Carandang dari Asian Development Bank (ADB).
  • Bapak Tri Tharyat, Direktur Kerjasama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI.

Kehadiran para pakar ini seolah menegaskan bahwa apa yang dibahas oleh para siswa di SkyMUN bukan sekadar simulasi, melainkan cerminan isu global yang nyata.

SkyMUN tahun ini diikuti oleh 186 pelajar SMP hingga SMA, dengan jangkauan nasional hingga internasional. Salah satu council, yaitu World Bank, dilaksanakan secara daring melalui Zoom sehingga membuka partisipasi yang lebih luas. Delapan council yang tersedia membawa isu yang beragam, banyak di antaranya dekat dengan realitas yang dihadapi generasi muda saat ini. Topik-topik ini tidak jauh dari apa yang sering muncul di berita, namun di sini, para peserta harus memilih posisi, bukan hanya membaca.

Mulai dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atau DPR-RI mengangkat perdebatan tentang efektivitas program Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang baru-baru ini resmi diterapkan oleh pemerintah negara, United Nations Special Summit (UNSS) yang menggunakan latar Pulau Paradis dari anime Attack on Titan untuk membahas aliansi global, sampai council Crisis yang menghanyutkan peserta ke dalam serunya perebutan kekuasaan di Kerajaan Singosari di tengah ancaman invasi Mongol. 

Di sisi lain, ada satu council yang sejak awal terasa berbeda. Dewan Pers (Press Corps), yang tidak berdiri sebagai negara. Mereka mengamati, mencatat, lalu mengolah apa yang terjadi di seluruh konferensi.

Setelah perkenalan para juri, atau yang biasa disebut Chairs, para delegasi pun diarahkan menuju ruangan sidang untuk memulai perdebatan perdana mereka dengan semangat kompetisi yang membara.

Di antara seluruh council, Press Corps berjalan dengan cara yang paling unik. Para pesertanya berperan sebagai jurnalis, bukan delegasi. Salah satu juri atau Editor-in-Chief di council ini adalah Kilau Kinasih Putri Khameshwari, yang juga merupakan Pemimpin Redaksi klub jurnalistik SMA Labschool Kebayoran, Skypress. Perannya di sana adalah sebagai pemberi arah akan bagaimana kerja jurnalistik selayaknya dijalankan di dalam konferensi MUN.

Para jurnalis tidak hanya menetap di satu tempat. Mereka berpindah dari satu council ke council lain, mengamati jalannya debat, lalu menulis berdasarkan apa yang mereka temukan. Setiap peserta membawa identitas media, dari media lokal hingga agensi global, yang memengaruhi sudut pandang tulisan mereka. Untuk mendapatkan informasi, prosedur yang perlu mereka lalui pun tidak sederhana. Mereka harus melakukan wawancara di luar sesi, mengirim pertanyaan tertulis secara formal kepada delegasi, hingga mengikuti simulasi konferensi pers yang menuntut pertanyaan yang tepat dalam waktu yang sangat terbatas.

Bahkan sebelum SkyMUN dimulai, mereka sudah mendapat tantangan membuat laporan berita dalam bentuk video singkat. Sehingga ketika konferensi berlangsung, mereka tidak mulai dari nol, dan dapat langsung ‘bekerja’ dengan produktif. Kiska sebagai salah satu juri Press Corps melihat peran ini sebagai bagian penting dari keseluruhan forum. “Menurutku, peran dari council Press itu penting sekali ada di MUN. Karena Press membantu membentuk bagaimana sebuah isu dilihat, dari berbagai sudut pandang yang mungkin tidak muncul di ruang sidang,” tuturnya.

Di luar ruang sidang, suasana SkyMUN juga terasa hidup. Skypress sendiri membuka booth yang menjual edisi terbaru Labzine. Di sekitarnya, booth makanan dan organisasi non-profit ikut meramaikan area, menjadi tempat singgah singkat di antara padatnya jadwal council.

Memasuki hari kedua, dinamika konferensi terasa semakin intens. Setiap council terus berjalan dengan ceritanya sendiri yang semakin memanas, sementara Press Corps terus merekam semuanya dalam kemasan cerita. Puncak acara kemudian ditutup dengan Social Night di Hotel Ambhara Jakarta. Malam itu, suasana sekejap berubah menjadi lebih santai. Delegasi dan para Chairs, semua berkumpul dalam satu ruang tanpa tekanan yang sedari pagi membayangi. Mereka berbagi meja, berbagi cerita, dan akhirnya saling melihat tanpa peran yang membatasi. Makan malam berlangsung hangat, diselingi musik dari DJ Kits yang menghidupkan suasana. Sudut photobooth yang turut menghias area ballroom hotel pun tidak pernah sepi, menjadi tempat orang-orang mengabadikan momen setelah dua hari yang padat. 

Ketika acara berakhir, yang tertinggal bukan hanya hasil sidang atau penghargaan. Ada pengalaman yang berkesan, percakapan yang masih teringat, dan cara pandang yang mungkin sudah berubah sejak hari pertama.

skypress

Related Posts

Studi Lapangan Vistrasaka: Kunjungan ke UGM hingga Malam Tak Terlupakan di Malioboro!

Studi Lapangan Vistrasaka: Kunjungan ke UGM hingga Malam Tak Terlupakan di Malioboro!

Seru dan Menantang! Siswa Vistrasaka Rasakan Sensasi Offroad di Gua Pindul

Seru dan Menantang! Siswa Vistrasaka Rasakan Sensasi Offroad di Gua Pindul

Sehelai Kain, Sejuta Cerita dari Giriloyo

Sehelai Kain, Sejuta Cerita dari Giriloyo

Petualangan Penuh Adrenalin: Momen Seru Vistrasaka di Gua Pindul

Petualangan Penuh Adrenalin: Momen Seru Vistrasaka di Gua Pindul

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *