Trip Observasi (TO) SMA Labschool Kebayoran di Kampung Tajur: Belajar Mandiri, Berbudaya, dan Bermakna

Trip Observasi (TO) SMA Labschool Kebayoran di Kampung Tajur: Belajar Mandiri, Berbudaya, dan Bermakna

Penulis : Ghiffari Azka M., Yasmin Zahira M.

Trip Observasi (TO) adalah salah satu kegiatan paling berkesan di SMA Labschool Kebayoran, sebuah pengalaman belajar di luar ruang kelas yang menantang sekaligus menyenangkan. Kegiatan ini wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas X, dan tahun ini dilaksanakan di Kampung Tajur, Desa Pasanggrahan, Purwakarta, pada 16–20 Oktober 2025.

Tujuan utama TO bukan hanya mengenalkan kehidupan masyarakat desa, tetapi juga menumbuhkan kemandirian, rasa ingin tahu, dan kemampuan beradaptasi. Menariknya, para peserta tidak diperbolehkan membawa ataupun menggunakan gawai pribadi selama kegiatan berlangsung. Seluruh proses, mulai dari observasi, wawancara, hingga pengolahan data penelitian, dilakukan secara langsung melalui interaksi nyata dengan warga desa, tanpa gangguan distraksi digital. Dengan begitu, para siswa benar-benar diajak untuk fokus, beradaptasi, dan belajar dari lingkungan sekitar.

Suasana Pembukaan yang Hangat

Kegiatan hari pertama dimulai sejak pagi. Tepat pukul enam, seluruh peserta dan panitia berkumpul dalam apel pembukaan yang mengusung tema “Aktualisasi Nyata Pembelajaran Mendalam yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menyenangkan.” Setelah doa bersama dan pengarahan singkat, rombongan berangkat menuju Kampung Tajur, menempuh perjalanan sekitar tiga jam.

Begitu tiba di lokasi, peserta masih harus berjalan menanjak sekitar 15 menit sebelum akhirnya mencapai lapangan utama. Di sana, warga desa telah menunggu dengan senyum ramah dan sambutan yang penuh semangat. Tarian Sampurasun dan Kalang Sunda dibawakan sebagai tanda selamat datang bagi para tamu muda dari Jakarta.

Acara pembukaan diisi dengan sambutan dari Kepala Sekolah dan Bupati Purwakarta. Salah satu tokoh masyarakat kemudian berdialog dengan peserta, menanyakan tujuan serta harapan mereka selama di Tajur. Anindya, salah satu peserta, menjelaskan bahwa ia dan kelompoknya akan meneliti kehidupan warga, termasuk tradisi dan kegiatan sehari-hari. Ia juga menyinggung keunikan rumah panggung dan suasana desa yang menjadi daya tarik tersendiri. Warga pun menyambut dengan antusias dan berjanji mendukung penuh kegiatan ini.

Kegiatan resmi dibuka oleh Ibu Asuh didampingi Bupati, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan simbolis peserta TO dari pihak sekolah kepada pihak desa. Setelah itu, para siswa berkenalan dengan orang tua asuh yang akan menampung mereka selama lima hari ke depan.

Pada hari pertama, setelah beristirahat sejenak, para peserta mulai menyelami kehidupan desa, mengenal lingkungan sekitar, berinteraksi dengan warga, dan menyiapkan penelitian lapangan yang akan menjadi inti dari kegiatan TO.

Belajar Lewat Penelitian dan Kehidupan

Setelah waktu istirahat dan makan siang, para peserta segera turun ke lapangan. Mereka berkeliling kampung, berbincang dengan warga, dan mencatat informasi penting untuk penelitian masing-masing.

Qianna (X-F) menceritakan pengalamannya dengan antusias, “Kelompok kami meneliti tentang kemampuan literasi dan numerasi anak-anak di sini. Menurutku seru banget meneliti, dari persiapan sebelumnya sampai nanti kami mengolah hasilnya.”

Bagi sebagian siswa, ini memang pengalaman pertama meneliti di luar lingkungan sekolah. Namun bagi Sulthan Maulana Akbar Nasution (X-D), kegiatan ini bukan hal baru. “Saya pernah meneliti tentang tidur saat masih di SMP Labsky. Tapi kali ini lebih menantang karena subjeknya bukan orang yang saya kenal, jadi komunikasi jadi tantangan tersendiri. Tapi tanpa handphone, saya bisa lebih fokus, nggak terdistraksi notifikasi apa pun,” ujarnya sambil tersenyum.

Melalui penelitian ini, para peserta tidak hanya belajar mengumpulkan data, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat secara langsung, nilai-nilai kerja keras, kebersamaan, dan cara hidup yang sederhana tapi bermakna.

Lintas Budaya: Rayakan Keberagaman, Kenali Jati Diri

Sore harinya, kegiatan berlanjut dengan Lintas Budaya, sebuah ajang untuk mengenal sekaligus menampilkan kebudayaan Sunda. Setiap kelompok menampilkan karya mereka, dari seni tari hingga musik tradisional.

Acara dibuka dengan fashion show busana tradisional Sunda oleh dua perwakilan dari tiap kelompok, diikuti berbagai penampilan yang meriah. Ada kelompok yang membawakan lagu Manuk Dadali dan lagu pop Indonesia, ada yang menampilkan angklung, pencak silat, tarian jaipong, hingga cerita rakyat seperti Nyi Roro Kidul dan Nyi Rengganis. Beberapa kelompok juga menampilkan shalawat dan rebana, serta tarian dan nyanyian daerah lainnya.

Menurut salah satu mentor, Gama Berwyn R. (XI-E), “TO kali ini jadi tantangan tersendiri karena kita berada di desa yang berbeda, dengan masyarakat baru. Tapi angkatan Sakravara ini mudah diatur, terbukti dari Pra-TO yang berjalan lancar.”

Aenea Zivana Allegra Mumtaz (X-B) dan Maryam Queensyifa (X-G) juga mengungkapkan semangat yang sama. “Kami nggak sabar ikut TO ini walaupun tahu pasti (akan) capek. Tapi pengalaman kayak gini yang membuat kami lebih siap (untuk) penelitian di masa depan. Tahun depan, kami bahkan ingin ikut lagi sebagai panitia atau mentor biar tahu gimana rasanya di balik layar,” kata mereka.

Menjelang malam, suasana semakin akrab. Peserta kembali berkumpul untuk melanjutkan acara budaya. Panitia membacakan beberapa “Surat Suka Rasa” dari peserta kepada mentor atau OSIS pilihan mereka, salah satunya untuk Kak Bintang dari bidang Danlog. Diselingi kuis tentang Kampung Tajur dan tawa bersama, malam pun dipenuhi semangat dan rasa kebersamaan yang hangat.

Malam Ibadah dan Renungan

Menjelang malam, para peserta juga diajak untuk memperdalam sisi spiritual melalui kegiatan ibadah bersama. Setelah salat berjamaah, beberapa kelompok menyampaikan kultum dengan tema yang beragam namun saling melengkapi, mulai dari bagaimana menjadi muslim yang produktif dan bermanfaat bagi orang lain, pentingnya menjaga salat lima waktu, hingga makna salat sebagai penyuci jiwa.

Suasana terasa hening namun menenangkan. Di antara cahaya lampu rumah panggung dan udara malam yang sejuk, peserta merenungkan banyak hal, tentang diri mereka, tentang masyarakat yang mereka temui, dan tentang nilai-nilai kehidupan yang sering terlupa di tengah kesibukan kota.

Kegiatan malam ditutup dengan penampilan dari Pak Wahyu, seorang seniman Sunda yang memperkenalkan berbagai alat musik tradisional dan membawakan rajah kecapi, musik khas Sunda yang lembut dan penuh makna filosofis. Nada-nadanya seakan menjadi penutup indah bagi hari pertama yang penuh pembelajaran dan pengalaman baru.

Refleksi Hari Pertama

Hari pertama TO di Kampung Tajur bukan sekadar tentang penelitian atau pertunjukan budaya. Lebih dari itu, hari ini menjadi pengingat bahwa belajar bisa datang dari mana saja, dari langkah kaki yang menanjak, dari senyum tulus warga desa, dari obrolan sederhana tanpa gawai, hingga dari musik kecapi yang mengalun di malam hari.

TO bukan hanya kegiatan tahunan; ia adalah perjalanan menemukan diri dan memahami arti kebersamaan. Seperti kata salah satu peserta, kegiatan ini bukan tentang seberapa banyak yang kita pelajari, tapi seberapa dalam kita merasakan dan memaknainya.

skypress

Related Posts

Lari Tematik Labschool:Panggung Penghargaan untuk Para Pahlawan Pendidikan

Lari Tematik Labschool:Panggung Penghargaan untuk Para Pahlawan Pendidikan

SpeakUp! 2025 :“Bloom Beneath the Spotlight”

SpeakUp! 2025 :“Bloom Beneath the Spotlight”

Pengetahuan Dasar dan Penelitian (PDP): Tidak Mendorong Umpan Balik Pemahaman Kontekstual dan Potensi Lokal

Pengetahuan Dasar dan Penelitian (PDP): Tidak Mendorong Umpan Balik Pemahaman Kontekstual dan Potensi Lokal

Skycamp Vistrasaka 2025: Antara Pengalaman dan Tantangan

Skycamp Vistrasaka 2025: Antara Pengalaman dan Tantangan