SMA Labschool Kebayoran Sambut Hangat Siswa Jepang dari Nishi Yamato Gakuen High School
Penulis: Janeeta Helgaputri P. & Aisyah Nurfitria
Terlihat empat bus terparkir di luar halaman SMA Labschool Kebayoran. Para anggota OSIS dan MPK berdiri berbaris rapi, menyambut dengan memegang bendera merah putih kecil dari plastik. Dua orang di barisan paling depan mengangkat tongkat dan menyatukannya di udara, membentuk gerbang simbolis untuk dilalui para tamu.
Hari itu, Senin, 4 November 2025, siswa-siswi dari Nishi Yamato Gakuen High School, Jepang, datang berkunjung ke SMA Labschool Kebayoran sebagai bentuk penguatan hubungan kerja sama antar sekolah. Suasana penyambutan berlangsung meriah. Iringan drum band Lamuru menggema energik, menambah semangat seluruh peserta yang menuntun rombongan menuju hall basket, tempat digelarnya upacara pembukaan (opening ceremony).

Dua pembawa acara, Rania dan Pras, membuka kegiatan dengan sambutan hangat. Selanjutnya, Bapak Ano selaku Kepala Sekolah SMA Labschool Kebayoran dan Bla Bla Sensei sebagai Kepala Delegasi dari Nishi Yamato Gakuen High School turut menyampaikan pidato. Keduanya menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai upaya mempererat persahabatan dan memperluas wawasan antar pelajar dari dua negara. Acara kemudian dilanjutkan dengan pertukaran cendera mata antara kedua sekolah sebagai simbol kerja sama dan persahabatan.
Sebelum memasuki acara inti, kedua sekolah saling memperkenalkan diri melalui pemutaran profil sekolah dan berbagai penampilan budaya. Ekskul Tari Tradisional (Tartrad) SMA Labschool Kebayoran membawakan tarian daerah Indonesia dengan anggun dan bersemangat. Tak kalah menarik, para siswa Nishi Yamato Gakuen menampilkan tari tradisional Jepang dan tarian modern menggunakan lightsticks yang memukau penonton. Perpaduan dua budaya ini berhasil menciptakan suasana hangat dan penuh antusiasme, disambut tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.


Memasuki acara inti, para siswa Jepang diperkenalkan dengan beragam kegiatan yang mencerminkan kehidupan dan budaya Indonesia. Setiap siswa Jepang didampingi oleh satu buddy, siswa Labschool yang menjadi pendamping mereka selama kegiatan berlangsung. Terdapat 122 buddy yang turut berpartisipasi dalam program ini. Mereka kemudian dibagi ke berbagai pos kegiatan, seperti permainan tradisional, pelajaran Bahasa Indonesia, gamelan, futsal, basket, dan PAI (Pendidikan Agama Islam).
Pada pos permainan tradisional, para siswa Jepang diajarkan cara bermain lompat tali yang seru dan penuh tawa. Di kelas Bahasa Indonesia, mereka belajar cara memperkenalkan diri dalam bahasa Indonesia dengan bantuan para buddy. Sementara itu, di ruang gamelan, para siswa mencoba memainkan alat musik tradisional Jawa dan menikmati keindahan iramanya.
Untuk kegiatan futsal dan basket, siswa dari kedua sekolah bermain bersama dengan semangat sportivitas dan kerja sama tim yang tinggi. Sedangkan di pos PAI, para siswa diperkenalkan dengan agama mayoritas di Indonesia, yaitu Islam, serta penjelasan singkat tentang nilai-nilai toleransi dan keberagaman yang dijunjung tinggi di Indonesia.
Suasana keakraban terasa di setiap kegiatan. Para siswa saling berinteraksi, mencoba hal-hal baru, dan bertukar cerita tentang kebiasaan sekolah masing-masing. “Awalnya agak canggung, tapi ternyata mereka sangat ramah dan penasaran dengan budaya kita,” ujar salah satu siswa Labschool yang menjadi buddy.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan pemberian kenang-kenangan kecil dari para buddy untuk teman Jepang mereka, dan sebaliknya. Senyum lebar dan tawa hangat mengisi sore hari itu, menandakan keberhasilan kegiatan yang tidak hanya mempererat kerja sama antar sekolah, tetapi juga menumbuhkan persahabatan lintas budaya.
