Dominasi Kepemimpinan Laki-laki Mulai Tergeser, Benarkah?
Penulis: M. Alhikam
Gelaran kampanye dan penghitungan suara dalam rangkaian program pemilihan ketua umum telah usai dilaksanakan dengan meninggalkan jejak pertanyaan untuk para siswa dan siswi pemerhati dinamika politik tingkat SMA.
Pertanyaan umum yang paling banyak dibicarakan adalah munculnya para kandidat calon ketua umum OSIS dan MPK yang didominasi kaum hawa. Sebut saja diantaranya seperti Sybia Ainuha Zurayya, Nasya Alyafayza Muliawan, dan Nua Kameumeut Ginanjar dari sisi eksekutif (OSIS).
Sementara dari ranah legislatif (MPK) muncul tiga nama yaitu Alisha Aruminadyn, Callista Nura Effendi, Shaskia Janitra Artanti. Seluruh calon ketua umum tersebut, baik OSIS maupun MPK merupakan perempuan.

Fenomena tersebut tentu menarik untuk dicermati. Terdapat sebagian siswa-siswi yang mempertanyakan hal tersebut. Keraguan terhadap kemampuan perempuan dalam memimpin tentu menjadi hal yang wajar untuk dipertanyakan oleh beberapa orang dalam sebuah dinamika politik.
Namun, kehadiran seluruh kandidat perempuan dalam kontestasi ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki ruang dan kapasitas untuk mengambil peran sebagai pemimpin dalam organisasi sekolah. Terlebih, mereka telah melewati proses seleksi yang cukup ketat hingga akhirnya dinyatakan layak untuk maju sebagai calon ketua umum.
Keraguan atas hal tersebut memang bisa terbilang wajar, tetapi keraguan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kemampuan dan gagasan yang telah mereka tunjukkan. Karena pada akhirnya, kelayakan mereka untuk memimpin akan terlihat dari bagaimana mereka membawa gagasan dan menjalankan tanggung jawab yang diemban.
Namun, tidak adanya kandidat laki-laki yang berhasil sampai pada tahap pemilihan juga bukan berarti laki-laki tidak lagi layak atau kehilangan potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Proses seleksi yang menghasilkan seluruh kandidat perempuan pada periode ini merupakan hasil dari rangkaian penilaian pada satu momentum tertentu, bukan gambaran mengenai seluruh kemampuan siswa laki-laki.
Sesungguhnya, masih terdapat banyak siswa laki-laki yang memiliki kemampuan, gagasan, dan pengalaman dalam berorganisasi. Hanya saja, pada kontestasi kali ini, mereka belum menjadi bagian dari jajaran kandidat yang melanjutkan ke tahap pemilihan.
Lantas, apakah dominasi kandidat perempuan dalam pemilihan ketua umum OSIS dan MPK kali ini benar-benar menunjukkan adanya perubahan dalam dinamika politik kepemimpinan siswa? Ataukah fenomena tersebut hanya menjadi bagian dari fenomena yang terjadi pada periode ini? Belum tentu ada jawaban yang dapat ditarik secara langsung. Yang pasti, kemunculan para kandidat perempuan ini memberikan warna tersendiri dalam pemilihan tahun ini, sekaligus membuka ruang bagi kita untuk mengamati bagaimana gagasan, program, dan kepemimpinan mereka akan berjalan ke depannya.

