Debat Calon Ketua Umum Rohis: 6 Presentasi Tapi 1 Omongan Pasti

Debat Calon Ketua Umum Rohis: 6 Presentasi Tapi 1 Omongan Pasti

Penulis: Zyta Zhafif XI-I

“Jujur, sebenarnya aku kaget because it’s not what I expected,” ujar Kevina setelah mengingat kembali debat yang telah ia lalui pada Sabtu malam, “Tapi dengan amanah besar yang aku pegang, Insya Allah kita semua bisa amanah dan bekerja sama dengan baik.”

Dari tanggal 30–31 Agustus 2025, para calon anggota komunitas Rohani Islam menjalani Pelatihan Kepemimpinan Organisasi Rohani Islam (Lampion) yang dilaksanakan di Ambhara Hotel, Melawai. Dengan tema besar “Mengakar Kuat, Menjulang Tinggi, Visi Bersama, Gerak Berjama’ah,” mereka mengikuti materi dari ustaz, alumni Vastagana, hingga menjalani tes bidang pilihan masing-masing. Namun, yang paling ditunggu-tunggu adalah debat calon ketua umum (CAKETUM) Rohis.

Pada intinya, susunan komunitas Rohis cukup mirip dengan OSIS. Contohnya, adanya Badan Pengurus Harian yang terdiri dari Triumvirat, Sekretaris, dan Bendahara. Dengan itu, berbagai program kerja yang khususnya mereka urus—seperti SkyDom—dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Bagaikan tumbuhan, akar yang kuat menjadi fondasi bagi pohon tersebut untuk tahan terhadap tekanan yang dihadapinya sehingga dapat menjulang tinggi.

Sebelum dimulai, para CAKETUM duduk di atas panggung dan mempresentasikan visi-misi dan rancangan program kerja baru sesuai dengan nomor urutan mereka dari kanan:

  1. Muthia Syifa Abdillah yang memiliki cara bicara cepat dan percaya diri.
  2. Diva Sabila Anwar dengan pendekatan yang lebih santai dan friendly.
  3. Azka Rizki Budi Nugroho yang memilih metode presentasi sambil berjalan mendekati para pendengar sehingga terkesan lebih ramah dan dekat.
  4. Zhafif Muhammad Loverien dengan suara yang keras dan kencang.
  5. Kevina Atalie yang berbicara tanpa bertele-tele dan tidak berbelit-belit sehingga waktu yang ia punya digunakan sampai akhir.
  6. Fakhirah Tamaam Al Kharisa dengan nada yang tenang dan memuatkan lebih banyak senyuman di tengah presentasinya.

Dalam setiap jenis kelompok sosial, tentu diperlukan sosok pemimpin yang dapat merangkul semua anggotanya. Konsep pemimpin ideal pada dasarnya menitikberatkan pada kecakapan dan karakteristik yang melekat pada diri pemimpin: berintegritas, adil, dan bertanggung jawab menjadi gambaran keidealan diri pemimpin dari perspektif masyarakat (Setyawan dkk., 2021). Maka dari itu, salah satu cara untuk memperlihatkan kualitas dari calon pemimpin adalah melalui debat.

Dalam proses tanya jawab, Kevina terlihat paling formal dan lugas dalam memberi respons. Sampai debat tersebut selesaipun kata-kata yang ia keluarkan sedikit sekali yang terbelit. Selain itu, ia juga menjawab dengan panjang tapi tetap dalam bata waktu 1 menit sehingga ia menggunakan waktu yang diberikan dengan sangat baik dibandingkan dengan kandidat yang lain.

Di sisi lain, Azka dengan nada yang lebih santai. Ia menjawab semua pertanyaan dengan suara yang tenang tapi tetap serius seolah-olah mengatakan bahwa setiap opini dari para anggota itu penting sehingga kita tak perlu malu dalam bertanya. Selain itu, tangan kananya sering memegang dadanya ketika sedang merespons, memberikan kesan bahwa ia adalah pendengar yang baik dan pengertian.

Baik Muthia maupun Diva memberi pendekatan yang lebih senang dan ceria. Sama seperti kepribadian mereka sehari-hari, suara yang kencang dan lantang mereka beri sambil menonjolkan rancangan program kerja mereka masing-masing yang lebih berfokus kepada cara membuat angkatan, baik Kelas XI maupun Rohis, menjadi lebih solid.

Dari segi isi presentasi, setiap dari kandidat memiliki ciri khas dan kreatifitasnya masing-masing dengan fokus yang berbeda-beda. Namun, dari segi penyajian, Hira dan Zhafif berada di posisi paling lemah. Meskipun Hira sering tersenyum ramah saat presentasi maupun tanya jawab, respons yang cenderung lamban dengan suara yang pelan tidak cukup meyakinkan audiens. Di sisi lain, suara Zhafif yang lantang tidak didukung oleh metode bicara yang betul melihat bahwa gestur tubuhnya cukup kaku dan argumen yang tidak terlalu membantu juga.

Malam itu juga, rundown acara dipercepat agar perhitungan suara dapat segera dilaksanakan. Dengan waktu kurang lebih 30 menit, terpampang di papan tulis dengan jelas: Kevina berhasil menang dengan jumlah 11 suara, beda sangat tipis dengan Azka yang mendapatkan 10 suara. Muthia menyusul dengan 7 suara. Di sisi lain, Diva, Hira, dan Zhafif masing-masing mearih 3 suara, sedangkan ada 1 suara yang dinyatakan tidak sah.

Jika dilihat berdasarkan debat CAKETUM yang berlangsung selama 1 jam 30 menit, alasan utama Kevina mendapatkan suara paling banyak adalah karena pembawaannya yang didukung oleh program kerja yang rinci dan menarik. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan pendengar berfungsi untuk menginformasikan, menghibur, membujuk, mengajak, dan menginspirasi mereka (Tarigan, 2008). Hal ini membuat komunikasi menjadi lebih efektif, khususnya dalam bernegosiasi dan memecahkan masalah. Dalam situasi debat tersebut, ia meminimalisir ujaran yang berbelit yang menandakan bahwa ia mengerti materi yang akan dipresentasikan dengan sangat baik. Selain itu, Kevina juga menggunakan bahasa yang mudah untuk diucap dan mudah untuk dipahami sehingga di 30 menit terakhir, sudah terlihat siapa yang menjadi kandidat terkuat.

“Harapan kita semua untuk Rohis ini (Shafa ar-Rahmah) bisa berkembang lebih baik lagi, juga bisa lebih menertibkan siswa, bisa lebih fun juga buat anak-anak (siswa SMA) karena ngga cuman ada aturan doang tapi mereka juga senang kalau ada acara-acara kita,” ujarnya mengenai harapannya untuk komunitas ini.

Untuk posisi Ketua Bidang 1 diambil oleh Azka. Ia mengungkapkan rasa syukur dan perasaan terima kasih karena kesempatan yang telah diberikan kepadanya. “Harapannya semua anggota Rohis, terutama anggota di 3 bidang yang saya pegang (Dana & Logistik, Dakwah, dan PKD) dapat bekerja sama dengan baik, besinergi, saling berkontribusi, dan yang paling utama adalah menikmati experience dengan satu sama lain,” lanjutnya. Selain itu, visi dia untuk program kerja komunitas Rohis di masa depan adalah bisa dilaksanakan dengan sebagus-bagusnya (meskipun untuk program yang fix akan dijalankan belum pasti dan masih dibicarakan).

Muthia, di sisi lain, berhasil mendapatkan posisi Ketua Bidang 2. “Alhamdulillah aku bisa dapat kesempatan untuk menjadi salah satu pemimpin di komunitas Shafa ar-Rahmah,” ucapnya. “Jujur, ini bisa menjadi beban yang berat untuk aku karena ini pertama kalinya aku memimpin komunitas yang besar banget, tapi aku bersyukur sekali aku punya rekan yang bagus banget (Kevina dan Azka), jadi aku juga merasa senang.” Ia lanjut mengenai harapan untuk ketiga bidang yang ia pimpin: untuk Kesenian, ia berharap mereka tetap bisa santai meskipun kemungkinan besar akan cukup sibuk dengan Rohis; untuk Hubungan Masyarakt, mereka diharapkan terus aktif dalam memegang dan mengurus akun Rohis di media sosial, khususnya instagram; untuk Dokumentasi, ia menginginkan mereka terus siap dalam mendokumentasi kegiatan komunitas kedepannya.

Dengan nama Shafa ar-Rahmah yang berarti “kejernihan kasih sayang,” diharapkan komunitas Rohani Islam Periode 2025/2026 dapat terus menebarkan kebaikan dan kasih sayang yang tulus karena mereka tidak hanya ingin SMA Lasbchool Kebayoran sukses di dunia, tapi juga sukses di akhirat kelak.

REFERENSI

Setyawan, C. D., Sariyatun, & Indrawati, C. D. S. (2021). Pemimpin Ideal dan Karakteristik yang Didambakan dalam Menjawab Tantangan Zaman. SHEs: Conference Series, 5(1), 96–103.Tarigan, H. G. (2008). Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Angkasa.

skypress

Related Posts

Momen Refleksi Bersama: Fakta Menarik di Balik Isra Mi’raj SMA Labschool Kebayoran 

Momen Refleksi Bersama: Fakta Menarik di Balik Isra Mi’raj SMA Labschool Kebayoran 

Lari Tematik Labschool:Panggung Penghargaan untuk Para Pahlawan Pendidikan

Lari Tematik Labschool:Panggung Penghargaan untuk Para Pahlawan Pendidikan

SpeakUp! 2025 :“Bloom Beneath the Spotlight”

SpeakUp! 2025 :“Bloom Beneath the Spotlight”

Pengetahuan Dasar dan Penelitian (PDP): Tidak Mendorong Umpan Balik Pemahaman Kontekstual dan Potensi Lokal

Pengetahuan Dasar dan Penelitian (PDP): Tidak Mendorong Umpan Balik Pemahaman Kontekstual dan Potensi Lokal