Oleh: Princessfa Ayra Alvin XII MIPA 5

Pada akhir 2019 lalu, virus COVID – 19 pertama kali terdeteksi di Wuhan, Cina dan semenjak itu secara cepat virus ini menyebar ke seluruh dunia sampai akhirnya World Health Organization (WHO) melalui direktur jenderalnya; Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 12 Maret 2020 menetapkan COVID – 19 sebagai pandemi global. Menurut beliau, penetapan ini dilakukan mengingat tingkat penyebaran dan keparahan yang mengkhawatirkan. Pandemi ini tidak saja mengahancurkan kesehatan masyarakat dunia, tetapi juga merontokkan sendi – sendi perekonomian di banyak negara termasuk Indonesia. Sampai dengan 5 Oktober 2020 menurut data dari John Hopkins University sudah mencapai 35,1 juta orang di seluruh dinia yang terinfeksi dengan jumlah kasus kematian saat ini mencapai 1 juta orang. Di Indonesia sendiri menurut data resmi dari pemerintah, sampai hari ini tanggal 5 Oktober jumlah kasus sudah mencapai 303.948 dengan tambahan kasus per hari nyaris 4.000 orang dan total kematian sejak awal pandemi mencapai 11.151 orang. Dampak yang dirasakan akibat pandemi ini juga membuat pendidikan di Indonesia mulai bereksperimen dengan menggunakan beberapa teknologi pendidikan yang menunjang pembelajaran serta turut aktif mengikuti revolusi industri 4.0. Di masa pandemi, para siswa yang ada di berbagai pejuru dunia mulai terbiasa belajar mandiri dengan pemanfaatan teknologi atau yang kerap disebut e – learning agar pembelajaran tetap berjalan baik sekaligus mendukung pemerintah dalam upaya menjaga physical distancing sesuai protokol kesehatan. Salah satu platform yang banyak digunakan adalah Zoom. Popularitas pendiri dan CEO Zoom, Eric Yuan meningkat dan harta kekayaannya dalam 3 bulan pertama sejak awal pandemi sudah meningkat USD 4 miliar atau sekitar 66 triliun rupiah. Menurut Tom Warren, jurnalis dari The Verge pada April 2020 lalu, setiap harinya ada sekitar 300 juta orang yang menggunakan zoom meeting untuk berbagai keperluan. Berbagai pro dan kontra muncul di kalangan masyarakat, sebagian masyarakat menyesalkan para siswa Indonesia menggunakan platform asing sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, Bapak Nadiem Makarim justru membuat salah satu platform yang mendunia dan menjadikan beliau sebagai start – up unicorn berskala internasional. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tanpa tatap muka menuntut strategi belajar sendiri, kedisiplinan dan juga integritas. Tidak dapat dipungkiri pembelajarak jauh ini memungkinkan para siswa melakukan berbagai kecurangan. Bagaimanapun ketatnya pengawasan, selalu saja ada celah bagi para siswa untuk melakukan kecurangan. Hal ini menuntut integritas yang tinggi di kalangan siswa. Keberhasilan itu penting, tetapi kejujuran yang utama. Proses meraih nilai – nilai yang bagus itu sama pentingnya dengan mendapatkan nilai itu sendiri. Di dunia ini, segala hal memiliki sisi pro dan kontranya. Dibawah ini adalah pro dan kontra dari sistem pembelajaran jarak jauh menggunakan platform Zoom. Pro: 1. Tidak memerlukan ruang kelas. 2. Waktu belajar yang fleksibel. 3. Siswa menjadi lebih mahir dan terbiasa dengan penggunaan teknologi informasi. Kontra: 1. Memerlukan pulsa atau kuota. 2. Memungkinkan terjadinya banyak peluang kecurangan. 3. Materi yang diajarkan tidak maksimal. Disamping hal – hal diatas, pembelajaran jarak jauh ini juga menimbulkan masalah sosial baru. Di negara – negara maju yang sudah rata tingkat kematangan pendidikan dan kesejahteraan sosial masyarakatnya hal ini tidak terlalu bermasalah, namun untuk negara – negara berkembang ada berbagai dampak sosial yang timbul antara lain; 1. Tidak semua siswa Indonesia apalagi di daerah luar Jawa yang memiliki laptop (komputer). 2. Kalaupun memiliki laptop, dalam satu keluarga mungkin hanya satu sementara dalam satu kalangan biasanya ada lebih dari 1 anak yang harus belajar online. 3. Tidak semua daerah Indonesia sudah teraliri arus listrik dan internet. 4. Andaikan internetnya ada, masalah sinyal dan jaringanpun tidak merata di berbagai wilayah. 5. Andaikan listrik, internet, dan sinyal ada, namun ada masalah lain yang timbul yaitu banyak keluarga yang tidak mampu membeli pulsa atau kuota untuk akses internetnya. Kisah inspiratif bahkan datang dari negara tetangga di Sabah, Malaysia ada seorang pelajar bernama Vereonah Mosibin yang membangun rumah pohon untuk belajar melalui internet. Bahkan melakukan ujian diatas pohon untuk mendapatkan sinyal yang bagus. Kisah ini diunggah di kanal youtube miliknya, Vereonah akhirnya berhasil dengan nilai gemilang dalam ujiannya dan mendapatkan beasiswa dari pemerintah Sabah, Malaysia. Sebetulnya banyak juga pelajar Indonesia yang begitu antusias belajar sehingga sampai harus mendaki bukit, gunung atau pohon untuk mencari sinyal. Tapi sayangnya, meskipun berbagai media massa telah meliput, pemerintah tidak kunjung memberikan apresiasi kepada anak – anak tersebut. Pemerintah terus berupaya mengatasi agar masalah kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat tidak sampai mengorbankan prestasi para siswa. Solusi – solusi yang diberikan antara lain 1) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengizinkan sekolah – sekolah menggunakan BOS (Bantuan Operasional Sekolah) 2) Memberikan kuota gratis untuk para siswa sampai 35 GB setiap bulannya. 3) Tidak hanya itu, pemerintah provinsi DKI Jakarta juga menyediakan hotspot wifi gratis bagi para siswa yang jaringan dan sinyal di rumahnya kurang baik. 4) Menurut Walikota Jakarta Selatan; Marullah Matali pada 18 Agustus 2020, ada 1.414 titik hotspot internet gratis yang dipasang di Jakarta Selatan. Hal ini merupakan bagian dari program Jakwifi yang diluncurkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pada akhir Agustus kemarin. 5) Merujuk pada kisah inspiratif diatas, pemerintah seharusnya memberikan apresiasi, dapat dalam bentuk beasiswa atau tunjangan bagi orangtua siswa yang kekurangan dalam segi ekonomi tetapi tidak patah semangat dalam meraih prestasi yang gemilang. Dari uraian yang telah dipaparkan diatas, dapat disimpulkan hal – hal sebagai berikut: 1. Banyak kendala dalam belajar di masa pandemi ini janganlah mematahkan semangat kita. 2. Pemanfaatan teknologi informasi secara jeli sangat bermanfaat dalam mewujudkan pembelajaran e – learning yang baik. 3. Kita harus mengedepankan integritas dalam pembelajaran e – learning ini. Proses itu sama pentingnya dengan hasil. 4. Pemerintah hendaknya selalu mendukung berhasilnya program pada saat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini. 5. Peran orangtua dan keluarga sangat dibutuhkan untuk mengawasi para siswa belajar dirumah dan selalu memberikan semangat pada kegiatan belajar dirumah untuk jangka waktu yang lama meskipun menimbulkan kejenuhan dan kebosanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *