Belajar dari rumah akibat ulah sang virus COVID-19 memang menjadi pengalaman yang unik bagi generasi kita. Bagi sebagian dari kita, sekolah online terasa lebih nyaman daripada perlu datang ke sekolah setiap hari. Kita dapat menyesuaikan cara belajar kita di dalam kamar masing-masing, sehingga kita menjadi lebih nyaman ketika mendengarkan guru yang sedang menerangkan materi. Informasi yang kita perlukan untuk, misalkan, mengerjakan tugas atau mempersiapkan ulangan harian akan lebih praktis untuk diakses dan dicerna.

Namun sayangnya, privilege yang kita miliki di pembelajaran online ini juga menimbulkan efek samping yang tidak dapat dihindari. Tugas-tugas makin menumpuk, bahkan lebih banyak daripada pembelajaran normal, sampai setinggi pohon cemara. Banyak dari kita yang tidak siap dalam menghadapi keadaan darurat yang memaksa kita untuk belajar dari rumah, khususnya bagi kita yang sudah terbiasa dan mahir dalam “bertahan hidup” di lingkungan sekolah biasa. Stres akhirnya mulai meracuni konsentrasi kita. Niat dan semangat untuk meningkatkan nilai lama-kelamaan pudar. Perasaan bosan, sedih, dan lelah ikut menghantui pikiran kita. Perlahan-lahan, kita mulai terdiagnosis dengan homesick. Eits, tetapi artinya bukan rindu rumah! Justru sebaliknya, kita terlalu banyak menghabiskan waktu di rumah sehingga kita menjadi bosan duduk di depan layar laptop selama berjam-jam tiap hari. Begitulah istilah homesick di tengah-tengah masa pandemi ini.

Padahal, pada waktu perjuangan ini, Tuhan Yang Maha Esa sedang menguji kekuatan mental kita, siapakah yang mampu menaklukkan tantangan tidak terduga ini, dan siapakah yang larut dalam kepasrahan. Semuanya bergantung dari kita sendiri, apakah dari awal kita benar-benar berniat ingin memanfaatkan metode pembelajaran ini menjadi kekuatannya. Tapi kalau kamu masih stres dan merasa putus asa, jangan sedih karena nilainya menurun atau rindu berkumpul bersama teman-teman kamu. Pertama-tama, camkan dulu kalau di setiap terowongan gelap nantinya ada cahaya di ujungnya. Pandemi ini akan berakhir, kok. Masalahnya bagaimana kita dapat “bertahan hidup” dalam masa percobaan ini. Mau trik jitunya? Simak deh beberapa poin ini!

  1. Jangan kerja terus!

Percaya deh, belajar terus-menerus tak ada manfaatnya kalau kamu gak istirahat! Tidak ada yang bakal masuk ke pikiran kamu. Saran dari aku, jangan jadi sok tryhard  kalau kamu tidak punya strategi belajar yang bagus. Orang yang paling cemerlang di sekolah bukanlah yang paling kerja keras, melainkan yang paling pandai dalam menghadapi urusan sekolah. Nah, untuk mendapatkan kepandaian ini, kamu harus terlepas dari mindset negatif yang ditularkan oleh sekolah ke kamu. Istirahatlah setiap satu jam belajar, selama tidak menghilangkan fokus. Kalau istirahat kamu digunakan untuk mengecek media sosial, justru akan menghambat proses penyerapan ilmu kamu. Contoh yang bagus seperti rebahan di kasur, mengobrol dengan keluarga, cuci muka, beribadah, terserah kamu. Walaupun lelah atau tidak, kamu perlu istirahat. Ingat, kamu masih manusia, dan manusia punya batas dalam staminanya.  

  1. Coba deh olahraga!

Hanya karena tidak boleh kemana-mana keluar rumah, tidak boleh dijadikan alasan buat tidak berolahraga, lho. Makin lama kamu duduk di kursi belajarmu dan tidak bangkit untuk melakukan aktivitas lain, makin banyak lemak dan kalori yang akan menumpuk di tubuhmu. Jadi sekali-kalilah kamu melakukan stretching sederhana atau berolahraga dalam waktu luang kamu. “Tapi kak, kan saya harus tetap di rumah, jadi apa saja ya olahraga yang dapat dilakukan secara indoor?” Jangan resah, banyak kok variasi olahraga yang bisa dipraktekkan dalam rumah kalian masing-masing, terserah selera kalian. Yoga? Boleh. SKJ? Wah, bagus tuh. Lumayan, supaya membakar kalori dan mengobati kebosanan.

  1. Putar lagu favoritmu!

Bagaimanapun mood saya, ketika saya memutar lagu kesukaan saya, saya langsung kembali termotivasi melakukan pekerjaan saya. Hilanglah stres atau keresahan saya. Kamu tentunya punya lagu favorit, kan? Lagi-lagi, musik yang kamu gemari berbeda dengan kebanyakan orang lain, jadi sesuaikan saja dengan seleramu. Kalau saya sendiri lebih suka musik hip-hop. Kapanpun kamu merasa stres terhadap tanggung jawab hidup kamu, tidak ada salahnya menikmati musik yang kamu sukai terlebih dahulu untuk mengaktifkan kembali stimulusmu.

  1. Lebih baik ditulis daripada ditahan!

“Lho, kok menulis? Apa hubungannya sama mengatasi stres, kak?” Jangan bingung dulu hehe. Ternyata, menuliskan isi pikiran kamu dapat mengekspresikan emosi yang baik sebagai cara mengatasi stres. Setelah ditulis, kamu dapat mulai membuat rencana untuk menyelesaikannya. Tidak perlu di kertas saja, tulisnya bisa di handphone, laptop, atau media apa pun. Ingat, yang paling penting, kamu perlu jujur dengan perasaanmu sendiri.

M.Farel Danendra

(Referensi: https://www.sehatq.com/artikel/cara-mengatasi-stres)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *