Oleh: Princessfa Ayra Alvin

Pandemi Covid-19 telah menjerumuskan ekonomi global ke dalam kontraksi yang parah. Menurut perkiraan Bank Dunia, ekonomi global akan menyusut 5,2 persen tahun ini. “Ini merupakan resesi terdalam sejak Perang Dunia II, dan penurunan output perkapita terbesar sejak 1870,” ungkap Bank Dunia dalam Prospek Ekonomi Global Juni 2020. Menurut Bank Dunia, aktivitas ekonomi di negara-negara maju diperkirakan menyusut 7 persen pada 2020 karena permintaan dan penawaran domestik, perdagangan, dan keuangan telah sangat terganggu. Sedangkan, pasar dan ekononomi berkembang atau Emerging Market and Developing Economies (EMDEs) diperkirakan menyusut 2,5% tahun ini. Pendapatan perkapita di EMDEs juga diperkirakan turun 3,6% sehingga jutaan orang akan jatuh miskin tahun ini. Di Indonesia, Pandemi Covid 19 belum ada tanda-tanda menurun. Berdasarkan data satuan tugas penanganan covid 19 pada 27 Agustus 2020, jumlah kasus positif Covid 19 yang terkonfirmasi telah meningkat 2.719 kasus dari hari sebelumnya menjadi 162.884 kasus. Pada periode yang sama, jumlah kematian meningkat 120 pasien menjadi 7.064, sedangkan jumlah pasien yang pulih meningkat 3.166 menjadi 118.575. Di tengah tren pandemi Covid-19, Indonesia kemungkinan besar akan masuk ke fase resesi pada kuartal III 2020. Pasalnya, aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha yang mulai pulih sejak juni 2020 rupanya belum cukup kuat untuk mengangkat laju ekonomi JuliSeptember. “Untuk kuartal III outlook-nya antara 0 persen hingga negatif 2 persen. Negatif 2 persen karena ada pergeseran dari pergerakan yang terlihat belum sangat solid, meskipun ada beberapa yang sudah positif,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual APBN. Ia menjelaskan bahwa untuk mengurangi kontraksi ekonomi, pemerintah menggunakan tiga program ekonomi yang meliputi ekselerasi dan eksekusi program Pemulihan Eknomi Nasional (PEN), memperkuat konsumsi Pemerintah, dan memperkuat konsumsi masyarakat. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II (Q2) 2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32 persen. Angka ini memburuk dari Q1 2020 yang mencapai 2,97. Jika kondisi ini berlanjut, maka Indonesia akan mengalami resesi. Perlu dipahami, menurut The National Bureau of Economic Research (NBER), resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.Managing Director – Luis Diaz Gutierrez menyatakan, budaya kerja yang dianut selama ini ditentukan oleh sejumlah faktor di antaranya struktur organisasi dan praktik manajemen; proses siklus hidup karyawan (dari rekrutmen hingga manajemen kinerja dan konsep keseimbangan kerja/ hidup); filosofi dan kebijakan perusahaan; jenis orang yang dipekerjakan dalam bisnis dan cara berinteraksi; misi, visi dan nilai perusahaan; dan yang terpenting lingkungan tempat kerja. Tetapi, semenjak Covid-19 menjadi pandemi global (11 Maret 2020), dan pemerintah di berbagai negara memberlakukan upaya isolasi untuk mencegahnya, budaya kerja (working culture) para pekerja di berbagai perusahaan berubah secara dramatis, dari ‘kerja bersama’ di suatu lingkungan kantor menjadi ‘kerja secara individual’ dari jarak jauh atau dari rumah. International Labour Organization / ILO mendefinisikan bekerja jarak jauh (teleworking) sebagai penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) seperti smartphone, tablet, laptop, dan komputer untuk pekerjaan yang dilakukan di luar tempat kerja/kantor. ILO (2020) mencatat, per akhir Maret 2020 sekitar 4 dari 10 karyawan di Eropa mulai teleworking. Di Finlandia, hampir 60 persen karyawan beralih bekerja dari rumah. Di Luksemburg, Belanda, Belgia, dan Denmark, lebih dari 50 persen, sedangkan di Irlandia, Austria, Italia, dan Swedia, sekitar 40 persen karyawan melakukan teleworking. Perlu dicatat, bekerja dari rumah selama pandemi Covid-19, berbeda dengan teleworking dalam kondisi normal. Teleworking selama pandemi Covid-19 jauh lebih menantang karena bersifat wajib, bukan sukarela, dan penuh waktu, bukan paruh waktu atau sesekali. Survei yang dilakukan atas para karyawan yang bekerja dari rumah selama pandemi Covid-19 mengungkapkan, bahwa ada pengalaman positif yang dapat diambil dengan bekerja dari rumah. Menurut Gutierrez, positifnya dengan memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah: perusahaan berhasil menciptakan budaya kerja yang efisien, dan berhasil menurunkan beberapa biaya seperti listrik dan alat tulis kantor. Selain itu, para karyawan dapat menjaga keseimbangan hidup profesional dan personal, termasuk tanggung jawab atas keluarganya, secara lebih efektif. Selain menghemat waktu (tak perlu melakukan perjalanan ke kantor), fleksibel (tidak begantung pada jumlah jam dan jadwal) dan bisa berpakaian secara kasual, dengan bekerja dari rumah para karyawan dapat meningkatkan konsentrasi sehingga dapat menjadi lebih produktif lagi dalam mengerjakan pekerjaan yang diberikan selama pandemi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *