Oleh: Princessfa Ayra Alvin

“Bella, sudah kumpul naskah cerpennya?”, Tanya Cia. “Belum. Aku masih sibuk mengurus mama”, jawab Bella tertunduk. Mereka memang bersahabat. Bella, Cia, Kania, Kayla dan Sabita. Persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Sejak SMP dulu mereka selalu bersama. Bella, Cia dan Sabita punya hobi menulis, Kania ratu di lapangan basket sedangkan Kayla sang penari serba bisa. Semua teman-teman di SMA Alpen tidak ada yang tidak tahu geng ini. A5. Begitu mereka menamakan geng ini. Selalu kompak, selalu bersama, selalu berprestasi meski dengan 5 karakter berbeda. Bella yang ceria, Cia yang pemalu, Kania yang sangat aktif, Kayla yang pendiam dan Sabita yang humoris. Lengkap sudah. Semua saling melengkapi. Bella tak habis-habisnya menggoda Cia, Kayla pendengar yang baik akan semua celotehan Kania dan Sabita yang humoris selalu menghibur Kayla yang pendiam. “Anak-anak, sekolah kita terpilih dan mendapat undangan dari Kemendikbud untuk ikut loma menulis cerpen tingkat nasional. Pemenangnya akan dikirim untuk lomba tahap selanjutnya di Korea. Sekolah kita akan diwakili oleh Bella dan Sabita dari XI IPA 1 dan Cia dari XI IPA 2. Ayo kita dukung teman-teman kita ini agar mengharumkan nama sekolah dan berprestasi di ajang internasional”, kata Bu Yani, Kepala Sekolah pagi ini saat upacara bendera. “Untuk ananda Bella, Cia dan Sabita, kalian agar mempersiapkan diri dengan baik. Buatlah kami bangga. Ibu percaya kalian bisa”, sambung Bu Yani lagi. “Yeayy…ini dia penulis kita”, canda Kania saat geng A5 berkumpul di kantin saat istirahat. Seperti biasa, Kania selalu terlihat gembira seolah tidak ada masalah apapun di bumi ini yang bisa membuatnya bersedih. Namun Bella tidak mengacuhkannya. Bella hanya menyibakkan rambutnya sambil menghabiskan semangkuk sotomie di depannya. Kayla yang sensitif langsung mendekati Bella “Ada apa, Bel? Tidak biasanya kamu begini”, Tanya Kayla. Bella yang ceria memang sudah seminggu ini terlihat murung. Entah ada apa, padahal biasanya mereka selalu berbagi cerita. “Mama harus dioperasi. Sejak jatuh 2 bulan lalu, mama jadi sulit berjalan. Minggu lalu aku bawa ke dokter. Kata Dr. Rudy tempurungnya harus dioperasi. Aku takut, Kan. Itu operasi besar”, jawab Bella.Bella memang anak sulung. Sejak kecil ia sudah terbiasa menjadi tulang punggung keluarga. Adiknya ada 4 orang dan ayahnya sudah wafat sejak Bella masih kelas 5 SD. Meski hidup prihatin, Bella selalu ceria. Ia tidak pernah mengeluh. Bella yang pintar selalu menjadi kebanggaan ibunya dan contoh teladan buat adik-adiknya. Saat teman-temannya mulai pacaran, Bella masih asyik mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Ayahnya memang meninggalkan rumah untuk kontrakan. Bapak dan Ibu Sugadi sudah lama mengontrak rumah mereka dan dari sanalah Bella dan ibunya punya uang untuk biaya hidup mereka sehari-hari. Tapi Bu Melati, ibunda Bella juga membuat dan menjual kue untuk menambah penghasilan untuk biaya hidup mereka sehari-hari. Bella lah yang membantu ibunya membuat dan berjualan kue. Bella yang punya banyak teman tidak malu-malu berjualan kue di kantin sekolah juga lewat on-line. Hasilnya Alhamdulillah lumayan. Bu Melati betul-betul bangga dan bersyukur memiliki Bella. Tidak hanya cantik, Bella juga selalu punya sederet prestasi membanggakan di sekolah. Tapi ada hal yang membuat Bu Melati sedih. Betapapun Bella sayang terhadap adikadiknya, Menuk, adik kandungnya selalu iri pada kakaknya ini dan cemburu terhadap segala kelebihan Bella. Bella memang cantik. Sangat cantik malah. Sejak SMP, ia selalu menjadi bintang di angkatan. Bella memang mirip sekali dengan ayahnya, orang Jerman, sementara Menuk memiliki semua yang bertolak belakang dengan kakaknya. Bella punya kulit putih, sedangkan Menuk berkulit sawo matang, , Bella pintar di sekolah, sedangkan Menuk selalu urutan 5 dari bawah. Menuk memang berbeda jauh dengan Bella dan itulah sebabnya menuk selalu iri dan cemburu pada kakaknya. Bu Melati bukannya sekali dua kali menasihati Menuk, tapi Menuk memang kurang ajar dan cenderung membenci Bella. Berulang kali Bu Melati menasihati bahwa tiap orang punya kelebihan dan kekurangannya sendiri, tapi Menuk malah menyalahkan Tuhan. “Kenapa sih Tuhan tak puas-puasnya memberi kelebihan pada mbak Bella dan memberikan semua keburukan padaku?”, jawab Menuk pada ibunya. Hanya Ade, adiknya yang laki-laki yang paling dekat dengan Bella. Tari yang masih kelas 6 SD juga sering menaruh simpati pada Bella. Tiap kali Menuk berkata kasar dan kurang ajar pada kakaknya, Tari hanya bisa diam. Tapi setelah itu ia menghampiri Bella: “Sabar, mbak. Mbak kan tahu mbak Menuk gimana”, hibur Tari. Sementara Bayu, adik paling kecil yang masih kelas 4 SD cuma bisa diam menahan perasaan diatas kursi rodanya. Bayu memang lumpuh. Sejak kecil ia selalu menggunakan kursi roda, ke sekolah sekalipun. Menuk lah yang bertugas membantu Bayu sehari-hari. Bella sudah sibuk membantu ibunya membuat dan berjualan kue. Belum lagi membantu adik-adiknya mengerjakan tugas-tugas sekolah. Pantas saja Bayu tidak berani terang-terangan membela Bella tiap kali Menuk membentak Bella, tapi dalam hatinya, Bayu tahu Menuk salah dan tidak pantas begitu pada kakaknya. Bella sudah banyak membantu keluarga. Dialah tulang punggung keluarga. Saat bulan lalu ibunya jatuh, Bella sangat sedih. Apalagi waktu ibunya dirawat di rumah sakit, Bella sangat sibuk. Menemani ibunya sakit, mengurus adik-adik di rumah. Tapi bukan Bella namanya kalau mengeluh. Seperti biasa, Bella selalu ceria dan tetap punya waktu untuk teman-temannya dan satu lagi…Bella selalu punya prestasi akademik yang mengagumkan. Sampai Dr Rudy memberitahu bahwa ibunya harus dioperasi agar bisa jalan lagi. Tempurungnya sakit dan harus segera dioperasi. Operasi. Kata itu menghantui Bella dan membuatnya tidak bisa tidur. Kalau sekedar biaya hidup sehari-hari dan uang sekolah, masih bisa dicukupi dari uang kontrakan yang dibayarkan Bapak dan Ibu Sugadi, tapi kali ini operasi! Oh Tuhan, darimana ia punya uang? Uang tambahan dari penjualan kue di kantin dan on-line memang banyak membantu, tapi untuk operasi ibu? Lantas darimana ia punya uang untuk membiayai operasi ibunya? Lomba cerpen. Bella lah jagonya. Bella memang pandai menulis. Dalam setiap lomba menulis, selalu Bella, Cia atau Sabita yang jadi juaranya. Tapi kali ini Bella seakan kehilangan semua ide-idenya. Kehilangan kegemaran menulisnya. Bella bingung mencari uang untuk operasi ibunya. Bella anak sulung. Dia terbiasa menanggung beban seorang diri di pundaknya. Percuma memberitahu keadaan ibu pada adik-adiknya. Mereka bisa apa? Paling-paling hanya membuat nilai-nilai mereka hancur. “Biar kami bantu, Bel. Kita kan sudah berteman sejak lama. Kesulitan kamu adalah kesulitan kita semua”, kata Kania hari itu di kantin sekolah saat Bella untuk pertama kalinya menceritakan tentang penyakit ibunya. Sebenarnya Bella tidak ingin menyusahkan temantemannya. Bella tidak suka dikasihani. Tapi kali ini dia tidak punya pilihan lain. Saat uang dari teman-temannya terkumpul, Sabita ah yang menyerahkannya pada Bella. “Ambillah Bel. Kami ikhlas, semoga ibumu cepat sembuh”, kata Sabita. Bella menitikkan air mata. Dia pantang menangis di depan orang. Bella biasa menumpahkan air mata kesedihannya di kamar. Seorang diri. Atau di sajadahnya saat dia sholat. Tapi kali ini Bella menangis di hadapan temantemannya. “Terimakasih”, jawab Bella. Dia tidak mampu berkata-kata lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *