Oleh: Velika Freesia Ulinaro

“Wulandari Hartono, atlet badminton sektor tunggal putri dari Indonesia.. Babak final kali ini cukup membuat semua orang jantungan, ya. Menurut Anda, bagaimana permainan Anda hari ini?”

  Mataku kelilipan. Aku tidak bisa melihat orang yang mewawancaraiku, aku hanya dapat mendengar suaranya. Dengan sekitar belasan kamera mengitariku, cukup susah untuk melakukan apa-apa dengan bebas sebab semua orang dapat memantau gerak-gerikmu. Badanku lelah, perasaan aku tidak enak. Walaupun aku dapat mengerti dan berbicara bahasa Inggris dengan lancar, aku tetap membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjawab pertanyaan sang jurnalis sebab pikiranku masih belum sinkron dengan perasaanku sendiri.

Aku mendekatkan diri ke mikropon yang ada didepanku. “Hari ini pertandingan final yang cukup menguras tenaga, namun untukku aku merasa aku sudah memberikan yang terbaik. Menurutku lawan bermain sangat baik juga hari ini.”

“Ini adalah kedua kalinya Anda bertanding di Korea, dan pasti ini pengalaman yang sulit ya, sebab Anda harus berhadap-hadapan dengan Lee Jieun yang kebetulan lolos ke final untuk mewakili tuan rumah.” tanggap jurnalis itu kembali. “Bagaimana caranya Anda mengatasi beban yang sangat berat ketika hampir satu stadion mendukung lawan Anda dan bukan Anda?”

  Perasaan tidak nyaman itu masih berbekas di hatiku hingga sekarang, walaupun sudah selesai pertandingan. Semua orang menyorak nama lawanku, terdengar sekali tepukan tangan meriah setiap kali ia meraih poin. Aku hanya dapat merasakan kembali keringat dingin yang membasahi keningku, kegelisahan yang ada dibenakku, beban yang ada di hatiku. Sungguh berat, situasi itu, ketika kamu sedang dalam keadaan kritis namun tidak ada seorangpun yang mendukungmu.

Aku tertawa kecil. “Yang pasti agak terbebani ya, sebab tentu sedikit banget pihak penonton yang pada saat itu mendukungku. Walaupun begitu, sungguh aku tidak bisa membayangkan kondisi lawanku yang tujuan utamanya saat itu pasti untuk membanggakan negara sendiri. Banyak penonton menaruh harapan dan ekspektasi tinggi terhadap dia, sehingga beban yang ia rasakan pasti jauh lebih besar daripada apa yang aku rasakan.”

“Mba Hartono! Tadi Anda sempat ketinggalan di set kedua namun dapat mengejar poin pada set ketiga, bagaimana Anda dapat menanggulangi rasa putus asa ketika sudah dipertemukan dengan situasi menekan seperti itu?”

Aku bermain cukup apik pada set pertama, menang kelak dari sang lawan. Set kedua aku mulai kehilangan kendali, kondisi mengelenggar yang dirasakan di stadion tersebut sepertinya membuat mentalku tergoyah. Set ketiga merupakan babak penentuan yang dapat menyatakan siapa pemenangnya. Walaupun aku sempat ketinggalan di menit-menit awal namun akhirnya aku dapat mengejar ketertinggalanku satu… demi… satu…. poin…

“Rasa keputusasaan sudah mulai menghantuiku di awal set ketiga, namun aku coba untuk mengabaikannya dengan cara berpikir positif, bahwa ketertinggalan berapa angka tidak membuktikan kekalahan, melainkan hanya poin ke-21 lah yang dapat membuktikannya. Cara berpikir itu aku pertahankan hingga akhir pertandingan.” Jawabku dengan jelas dan singkat. Badanku sudah cukup kewalahan, pada saat itu aku hanya ingin untuk pulang.

Namun pertanyaan-pertanyaan terus bermunculan. Jurnalis yang berbeda mengajukan pertanyaan lain untukku. “Poin terakhir setelah Lee meraih game point merupakan poin yang cukup kontroversial, sebab Lee menerima poin tersebut setelah wasit menyatakan bahwa Anda melakukan pelanggaran dengan alasan raket Anda telah menyentuh net. Apa tanggapan Anda terhadap keputusan tersebut?”

Aku sangat tidak ingin membicarakan kejadian miris itu, namun mau tidak mau pasti itu akan diungkit oleh beberapa jurnalis yang tidak kenal malu. Tepat setelah Lee berhasil mematahkan deuce dan memimpin dengan skor 21-22, satu stadion bersorak-sorai. Perempuan itu memulai servis yang tinggi, lalu kami saling menunggu kesalahan satu sama yang lain ketika menyerang di depan net, melakukan adu netting yang rasanya dapat berlanjut hingga larut malam. Aku menghentikan rally tersebut dengan cara memukul kok hingga terjatuh di daerah pertahanannya. Aku berteriak dengan gembira; satu poin lagi telah aku raih untuk melanjutkan permainan.

Ketika aku terhanyut oleh euforia, sang wasit tiba-tiba mengangkat tangannya, menyatakan bahwa aku telah melakukan sebuah pelanggaran. Hal itu secara tidak langsung menyatakan kemenangan lawanku sebab kesempatan poin telah dirampas olehnya. Si Lee langsung terselungkur bahagia, dan semua orang bersorak-sorai atas kemenangannya.

Akupun bingung. Apa yang telah terjadi? Aku menanyakan ke wasit apa kesalahanku, dan wasit menyatakan bahwa raketku menyentuh net saat aku memukul kok ke daerah pertahanan si Lee, sehingga poin itu akhirnya menjadi miliknya.

Hatiku terbakar dengan amarah membara. Raketku? Menyentuh net pada poin yang sangat kritis? Bagaimana caranya aku dapat mempercayai itu??

Tidak mungkin!

“Jujur, kecewa banget waktu aku sadar bahwa poin itu dinyatakan bukan milikku, tetapi… mau bagaimana lagi?” Aku menghembus nafas panjang. “Sang wasit menyatakan itu sebagai pelanggaran, dan aku harus menerima itu.”

Pertanyaan jurnalis itu kian berlanjut. “Wulandari Hartono, Anda sekarang menempati ranking 5 dunia di sektor tunggal putri. Ini merupakan final kelimamu tahun ini, dan final inipun berakhir dengan Anda tidak meraih gelarnya. Bagaimana perasaanmu menjadi runner-up untuk kelimakalinya, apalagi ketika Anda telah dikalahkan oleh pemain Lee Jieun yang bahkan bukan pemain unggulan?”

Keningku mulai mengerut mendengar pertanyaan-pertanyaan yang mulai tidak masuk akal. Berdiri di podium, aku sudah cukup terbiasa dengan rasanya berada disini. Namun sulit untuk diingkar rasa kekecewaan terhadap diri sendiri ketika medali yang diserahkan kepadaku bukanlah emas, namun silver, sama seperti medali-medali lainnya yang telah aku raih.

Air mata mulai mengucur dengan mudahnya, namun aku berusaha untuk menahan diri dari kesedihan yang menerpa. Inilah hari terbahagia Lee Jieun, sang pemain yang berhasil meraih emas di negaranya sendiri, mana mungkin aku rela untuk menghancurkannya?

Setiap kali hal seperti ini terjadi, pasti aku berusaha untuk menahan rasa sedih hanya karena alasan tersebut. Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi halangan untuk orang mengekspresikan kebahagiaan mereka.

Namun jika aku terlalu lama melakukan itu, kapan aku bahagianya?

“Kekalahan merupakan motivasi bagiku untuk terus berjuang. Mungkin aku tidak mendapatkan gelar tahun ini, namun aku akan terus berlatih agar aku bisa mendapatkan gelar untuk tahun depan.” Ucapku dengan nada optimis.

“Dengan kekalahan kali ini, kami turut bertanya. Apakah Anda ikhlas? Ikhlas menerima kekalahan?”

Diriku langsung teringat oleh apa yang terjadi tidak lama setelah Lee memenangkan pertandingan. Dengan lesunya aku menunduk, rasa ketidakadilan membenahi pikiranku. Apakah betul aku melakukan pelanggaran? Apakah sungguh ini sedang terjadi?

Lee mendatangiku dengan bahagia, menepuk punggungku untuk menunjukkan sportivitas. Luluh oleh kebaikannya untuk menghampiriku terlebih dahulu, aku menepuk punggungnya sebagai respon. Perempuan itu membungkuk lalu membisikkan sesuatu kedalam kupingku, “Aku tahu poin terakhir sebenarnya milikmu.”

Terkejut oleh pernyataannya, aku langsung mengangkat kepalaku kebingungan. Namun sebelum aku dapat merespons apa-apa, Lee sudah keburu berbalik arah, meninggalkanku dengan sebuah ungkapan realita yang sesungguhnya sangat pahit.

Poin itu sebenarnya milikku! Aku tahu aku tidak melakukan pelanggaran! Raketku tidak menyentuh net! Seharusnya aku berhak untuk melanjutkan pertandingan!

Rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya, namun akal sehatku untungnya bekerja dengan baik, sebab mana mungkin aku berani melakukan hal sekontroversial itu di kandang lawan? Penonton sudah terlalu sibuk merayakan kemenangan sehingga tak ada pun gunanya untuk protes; pertandingan sudah selesai, wasit sudah menyatakan hasilnya, dan aku harus menerima kenyataan bahwa Lee Jieun adalah pemenangnya.

“Ikhlas,” jawabku dengan suara lantang. “Iya, aku ikhlas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *