Oleh: Nabila Hananti

Aku memiliki seorang adik, namanya adalah Ayshela, dan aku sering memanggil dia dengan sebutan Ashe.
Aku dan Ashe tinggal berdua, lantaran ibu dan ayah kami telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku
membesarkan Ashe seorang diri. Aku bekerja tiap hari dari pagi sampai sore, sehingga Ashe dan aku bisa
hidup cukup nyaman dan berkecukupan dengan uang sekadarnya yang kudapat ini.
Adikku ini, ia adalah seseorang yang menggemari boneka. Ya, aku tak bisa bohong kalau pernah ada fase
di mana aku menggemarinya pula, pasti wajarlah bagi Ashe yang baru berusia enam tahun ini untuk
menggemarinya pula. Boneka beruang, boneka kelinci, boneka bebek, bahkan hingga ke boneka lumbalumba; ia sangat menyenangi semua jenis boneka. Akan tetapi, ada satu jenis boneka yang paling adikku
gemari, yaitu boneka kuda poni.
My Little Pony, adikku sangat menggemari serial kartun itu. Ashe bisa duduk di depan televisi selama
berjam-jam untuk menonton kartun tersebut. Setiap hari, dari pagi hingga sore, jikalau ada tayangan My
Little Pony, maka ia akan bergegas ke arah TV. Bagi Ashe, menonton televisi itu sangat menyenangkan,
karena ia melupakan segala rasa sakit yang ia alami selagi berlaku demikian.
Oh ya… aku lupa bilang ya… adikku ini adalah penderita leukemia. Ashe tidak bisa berkeliaran sebebas
anak-anak lainnya, lantaran ia akan kelelahan, dan mudah bagi Ashe untuk jatuh sakit. Karena itu, masa
kecil Ashe dilalui di dalam rumah sakit sembari menjalani kemoterapi. Puluhan kemoterapi telah ia jalani
semenjak ia mengidap penyakit kanker darah ini. Sejak usianya yang sangat belia – semenjak Ashe berusia
empat tahun, ia sudah didiagnosis dengan penyakit leukemia akut.
Untuk mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit penyakitnya tersebut, Ashe seringkali menonton My Little
Pony. Tak jarang ia melakukan roleplay menggunakan boneka-boneka kuda poni yang ia miliki. Ia akan
mengangkat boneka-boneka itu, menciptakan narasi dari ceritanya sendiri.
“Wussh! Twilight Sparkle menyerang Sunset Shimmer yang mencuri mahkota miliknya! Akan tetapi,
Sunset Shimmer berhasil menghindari serangan dari Twilight Sparkle!”
Tangan kanan Ashe yang menggenggam boneka kuda poni berwarna jingga menjauh dari tangan kriinya –
menjauh dari segerombolan kuda poni yang berkumpul di dekat tangan kirinya itu. Seolah-olah kuda poni
berwarna jingga itu sedang melarikan diri, boneka itu semakin lama semakin jauh.
“Oh tidak, Sunset Shimmer berhasil kabur! Ayo kejar dia, Applejack!” lanjut Ashe sembari meniru suara
dari Twilight Sparkle.
Aku terkekeh pelan menonton pertunjukan drama kecil yang sedang adikku peragakan. Aku pernah
menonton bagian ini sekali di televisi bersama Ashe, dan sungguh, aku terkesan dengan cara adikku
memeragakannya ulang. Kedua boneka kuda poni yang sedang ia gunakan – dua boneka kuda poni
berwarna jingga dengan salah satunya menggunakan topi – sedang digenggam mengikuti satu sama lain,
seolah keduanya sedang kejar-kejaran.
Ashe berdiri dan berkeliaran sembari membawa kedua boneka kuda poni yang sedang mengejar satu sama
lain itu, menyusuri sekujur kamar inapnya yang sebenarnya kecil, namun dengan imajinasinya, ruangan
tersebut menjadi terasa begitu besar. Ashe berlarian keliling dari sudut ke sudut, kejar-kejaran yang terlihat
begitu singkat di televisi menjadi terasa begitu menarik untuk ditonton.
“Sunset Shimmer, berhen-”
“Kriing!” tiba-tiba bel yang berada di samping pintu kamar inap itu berbunyi. Bel yang menandakan
waktunya Ashe untuk menjalankan kemoterapinya memotong drama yang sedang Ashe lakukan.
“Yaah… udah habis…” gerutu Ashe, mencibirkan bibirnya.
Aku tersenyum simpul menanggapi reaksi kekanak-kanakannya Ashe, reaksi kekanakan yang sesuai
dengan umurnya. Aku segera berdiri dan menghampiri Ashe yang menggenggam erat boneka di tangannya
itu, seolah tak rela melepaskannya. Ashe menatap kedua boneka itu dalam-dalam, boneka Applejack dan
Sunset Shimmer.
“Ashe, ayo berhenti dulu mainnya. Siniin bonekanya, kamu minum obat dulu ya,” ujarku lembut sembari
mengulurkan tanganku kepada Ashe.
Ashe masih terlihat tidak rela melepaskan boneka kuda poni itu, masih memeluknya dengan erat. Pipi Ashe
digembungkan dan tatapan matanya berkaca-kaca, memohon dengan sungguh-sungguh agar ia bisa terus
menyimpan boneka tersebut. Aku mencoba menahan tawaku, sungguh, adikku ini sangat imut.
“Ayo Ashe, kalau bonekanya nggak dikasih, nanti kakak nggak ke sini lagi loh,” lanjutku.
Dengan berat hati, Ashe akhirnya melepaskan boneka kuda poni di tangannya dan memberikannya padaku.
Mata Ashe terlihat seolah menahan tangisnya, tangisan karena kehilangan bonekanya. Sungguh gemas raut
wajah anak kecil ini yang kecewa, tentu saja kecewa dalam artian yang baik.
“Kak Anaa,” ucap Ashe, menyebut namaku sambil terisak sampai suara. “Besok Kak Ana ke sini lagi ya…
terus bawa bonekanya dari rumah. Ashe mau main lagi!” pinta Ashe sembari menggenggam dan menarik
pelan ujung kemejaku.
Aku menghela napas berat, tanpa sadar menyelipkan sebuah tawa dan sebuah air mata di kala helaan itu.
Aku berlutut, menyamakan tinggiku dengan adikku ini, menggenggam kedua tangan Ashe. “Tapi ada
syaratnya ya Ashe.”
“Apa?”
“Ashe harus turutin kata dokternya. Kalau dokternya bilang Ashe harus minum obat, Ashe minum obat.
Kalau Ashe disuruh tidur, Ashe tidur. Oke Ashe?” ujarku.
Ashe terlihat kesal. Ia menggembungkan pipinya sejenak, melihat ke arah mataku seolah memastikan
bahwa aku tidak bercanda. Barulah kemudian ia mengangguk. “Iya, Ashe bakal turutin kata dokternya,”
jawab perempuan mungil itu.
Aku tersenyum menanggapi ucapan Ashe. Sesaat setelahnya, dari belakangku, pintu ruangan rawat inap ini
terbuka. Dokter Rena – dokter yang menangani penyakit Ayshela – melangkahkan kakinya masuk ke dalam
ruangan. Ashe dengan segera berlari dan menaiki kasur, siap untuk menerima kemoterapi yang harus ia
ambil.
“Wah pintar ya hari ini. Nah Ashe, ayo, aaa…” ucap Dokter Rena, hendak menyuapi Ashe.
Ashe membuka mulutnya dan meminum obat yang diulurkan oleh Dokter Rena. Setelah Ashe meminum
obat tersebut, ia melihat ke arahku dengan mata berbinar-binar seolah berkata, ‘Lihat aku! Aku sudah
minum obat!’. Ah, segitu sukakah dia kepada boneka kuda poni?
“Iya, iya. Besok kakak ke sini lagi, nanti kakak bawain bonekanya,” ucapku mengelus kepala Ashe.
Sungguh, anak sepolos Ashe, anak semurni Ashe, mengapa ia yang menderita penyakit mematikan ini?
Aku tidak menyalahkan Tuhan yang telah mentakdirkan Ashe untuk menderita leukemia, aku hanya
mempertanyakan alasan mengap Ia memberikan Ashe penyakit ini. Mengapa Ashe harus ‘berbeda’
dibandingkan dengan anak-anak lain.
“Ashe, dokter boleh ngomong sama kak Ana dulu sebentar?” tanya Dokter Rena setelah membereskan obat
yang sudah dikonsumsi oleh Ashe.
“Mau ngomong apaan sama kakak?”
“Ashe, kamu istirahat aja dulu ya, nanti kakak kasitahu dokternya bilang apa. Oke?”
Aku dan Dokter Rena langsung melangkahkan kaki kami keluar dari ruangan Ashe begitu ia mengangguk.
Seketika setelah keluar, sang dokter menggenggam telapak tanganku, dan meski samar, aku dapat
merasakan bahwa genggaman dokter itu gemetar.
Dokter Rena terlihat ragu untuk berbicara. Pada awalnya aku heran, namun sesaat kemudian aku langsung
tahu. Aku langsung tahu, dan hati terdalamku sungguh berharap bahwa aku tak pernah mendengarnya. Toh,
begitu ia membuka mulutnya, Dokter Rena benar-benar telah menghancurkanku dengan perkataannya.
“Ana, tolong dengar baik-baik,” Dokter Rena berujar, menarik napas dalam-dalam. “Meski sudah
melakukan perawatan intensif, kondisi Ashe tidak membaik,” ia menjelaskan, dan suaranya terisak sebelum
ia melanjutkan perkataannya. “Mungkin saja… Ashe sudah tervonis jangka hidupnya dari sekarang.”
Aku bisa merasakan mataku terbelalak. Aku terkejut, tentu saja. Aku tidak menyangka akan menjadi seperti
ini. Vonis hidup, itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimainkan. Itu adalah jangka waktu yang tersisa dalam
kehidupan seseorang. Dan dalam kasus ini, itu adalah jangka waktu yang tersisa dalam hidup adikku.
Jangka hidup Ashe.
“Be..berapa lama?”
Dokter Rena menundukkan kepalanya. “Jika dalam tiga bulan ini kondisi Ashe tidak begitu ada perubahan,
mungkin tidak lebih dari satu tahun.”
Mendengar jangka waktu itu, air mata turun dari kedua mataku. Tidak! Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak
mau mempercayainya. Ashe hanya memiliki satu tahun kurun waktu hidupnya? Dia baru enam tahun! Ashe
masih berhak untuk hidup lebih lama! Ashe masih panjang masa depannya.
“Saat ini, kondisi Ashe masih cukup stabil. Jangan biarkan Ashe putus asa, karena semangat Ashe untuk
bertahan hidup adalah salah satu kunci kesembuhan Ashe,” lanjut Dokter Rena, telapak tangannya
menyentuh pundakku, memijatnya perlahan.
“Ashe hanya memilikimu sebagai satu-satunya keluarganya. Jika kau juga ikut putus asa, tidak akan ada
lagi yang mendukungnya,” ia berkata, kalimat terakhir yang aku dengar darinya pada hari itu. Memang,
meski Ashe yang sakit, Dokter Rena tahu bahwa akulah yang akan merasa paling putus asa.
Aku hanya bisa terdiam dan terisak tanpa suara, toh aku tak mau Ashe mengetahui fakta ini.


Sepuluh bulan telah berlalu semenjak hari itu. Kondisi Ashe tidak membaik. Waktu Ashe semakin sedikit,
dan aku adalah orang yang paling menyadarinya.
Hari ini, Ashe diizinkan oleh dokter untuk keluar dari rumah sakit sehari. Tentu saja, aku yang meminta
izin pada beliau. Hari ini, aku ingin mengajak Ashe pergi ke apartemen sebentar, mengajaknya pergi ke
tempat yang dapat dikatakan sebagai ‘rumah’ oleh sebagian besar orang. Padahal, rumah Ashe sendiri
bukanlah di tempat ini. Rumah Ashe adalah rumah sakit, lantaran ia telah tumbuh besar di sana.
Aku membuka pintu kamar apartemenku. Dengan tertatih, langkahku berjalan sembari menggendong Ashe.
“Hup!” Ashe aku turunkan, dan ia dengan segera bergegas ke arah kamarnya – kamar dengan tumpukan
boneka dan bantal yang begitu banyak.
Mata Ashe berbinar. “Twilight Sparkle! Fluttershy! Rarity! Wah, aku kangen!” ucap anak kecil itu dengan
polosnya. Tangan kecilnya itu mencoba mengangkat boneka sebanyak yang ia bisa dan membawanya ke
luar kamar.
Aku terkekeh pelan. “Ashe bonekanya banyak ya.”
“Iya dong! Semuanya punya Ashe!”
Ashe kembali melakukan roleplay yang masih gemar ia lakukan. Kali ini, jumlah bonekanya tidak terbatas,
membuat imajinasi anak kecil itu jauh lebih luas lagi. Sementara adikku itu dengan semangat bermain
boneka, aku berjalan ke dapur dan hendak memasakkan makan siang untuk Ashe.
“Ashe, makan yuk,” ajakku, memanggil anak kecil itu.
Ashe meletakkan boneka-boneka itu dan segera menaiki kursi yang cukup tinggi agar ia bisa makan di meja
makan denganku. Tiga nugget instan berisikan keju yang baru saja aku buat dalam sekejap masuk ke dalam
mulut Ashe. Ia memakan makanannya sampai-sampai pipinya kembung, sampai muncul tonjolan di
pipinya. Menggemaskan? Sangat.
Ashe memakan nugget itu bersama nasi, ia memakannya dengan cepat sampai-sampai mulutnya belepotan.
Ada nasi yang menempel pada dagunya, remah-remah nugget itupun berjatuhan ke bajunya. Tanganku
meraih selembar tisu dan mengelap sekeliling mulut Ashe.
“Ashe udah berapa tahun sih sekarang? Makannya masih berantakan ya,” ucapku dengan nada bercanda.
“Sini, biar kak Ana aja yang suapin.” Aku hendak mengambil sendok yang digenggam Ashe, namun Ashe
tidak mau melepaskannya.
“Nggak mau! Ashe kan udah tujuh tahun! Ashe udah gede, Ashe mau makan sendiri!”
“Ashe udah gede masih main boneka ya,” balasku, masih membersihkan noda yang ada di sekeliling mulut
Ashe. “Nggak mau dijual aja bonekanya? Ashe kan juga ada banyak.”
Seketika, setelah celoteh mulutku itu, Ashe langsung terlihat marah. “Nggak!” seru anak kecil itu. Tangan
Ashe – entah sengaja atau tidak – tiba-tiba memukul piring di hadapannya hingga terjatuh ke lantai,
menjatuhkan makanannya pula.
“Nggak mau! Nggak boleh! Pokoknya nggak boleh dijual! Bonekanya punya Ashe, nggak boleh dijual!”
Aku terkejut. Ini pertama kalinya aku melihat Ashe berteriak, ini pertama kalinya aku pernah melihat Ashe
marah, sampai-sampai ia memecahkan sebuah piring.
“Kak Ana, Ashe nggak punya teman, kak! Ashe tiap hari cuman bisa mainan dengan boneka saja! Kalau
boneka Ashe diambil, Ashe terus mainan apa? Ashe nanti kesepian, kak,” Ashe melanjutkan perkataannya
dengan mata yang berkaca-kaca dan pipi yang memerah. Tantrum, Ashe tantrum, dan alasannya adalah
karena boneka – boneka yang jumlahnya sulit untuk kuhitung lagi.
Tiba-tiba, dari salah satu lubang hidung anak kecil itu, sejumlah darah mengalir. Ashe terlihat kelelahan,
dan kepalanya terlihat seolah akan jatuh dari kursi itu. Bukan hanya terjatuh yang berbahaya, namun adanya
pecahan piring di lantai itu menambah risiko bagi adikku tersebut. Aku pun spontan menjerit dan menahan
tubuh adikku itu.
“Ayshela!”


Sudah berapa lama… waktu yang berlalu?
Satu jam? Dua jam? Tiga jam? Sungguh, sudah berapa lama waktu yang berlalu, karena keringat dingin
masih membasahi sekujur tubuhku?
Ashe…? Sudah berapa lama kau di dalam sana? Sedang apa kau di sana? Apakah kamu kesakitan? Lantaran
jantung kakakmu ini sedang berdegup begitu kencang sampai-sampai sakit rasanya. Apakah kamu
ketakutan? Karena kakakmu ini begitu takut akan kehilangan kamu. Apakah kamu masih hidup> Karena
kakamu ini merasa mati begitu kau terjatuh tadi.
Ayshela…
Ashe…
Tuhan… kumohon… selamatkan Ashe… hambamu ini rela melakukan apapun jika itu berarti aku bisa bisa
melihat lagi senyuman Ashe.
Tanganku kutangkupkan pada satu sama lain. Aku menundukkan kepalaku, menangisi adikku. Tak sempat
aku memikirkan apapun yang lain, aku hanya memfokuskan diriku pada Ashe, pada keselamatan Ashe,
pada kesehatan Ashe.
“Mariana Siregar?” panggil seorang suster, memecah keheninganku. Aku spontan terpanjat dan terbangun
dari kursi itu, menatap dengan cemas dan langsung bertanya dengan sekejap. “Bagaimana… kondisi adik
saya?”
Suster tersebut menggeleng. “Saya tidak dapat menjelaskannya,” jawab suster itu, menundukkan
kepalanya. “Tapi kakak dipersilakan untuk masuk. Dokter Rena sedang di dalam.”
Aku mengangguk dan bergegas melangkahkan kakiku masuk. Pandanganku langsung tertuju ke arah Ashe
di atas kasur, di sampingnya terdapat Dokter Rena. Kedua orang yang sepertinya sehabis berbincang itu
melihat ke arahku dengan ekspresi yang berkebalikan; Dokter Rena terlihat muraum, sementara Ayshela
memasang sebuah senyuman manis di wajahnya.
Dokter Rena melihat ke arahku, dan aku berlari kecil menghampiri mereka.
Napasku terengah-engah. “Ashe?” aku bertanya kepada Dokter Rena dengan suara lirih. Ucapanku hanya
dibalas dengan sebuah gelengan kecil. Dokter Rena menepuk pundakku dan berbisik. “Maaf,” ucapnya.
Tak perlu ada kata-kata lain, setelah ucapan itu, aku hanya tersenyum tipis.
“Dokter… akan meninggalkan kalian berdua dulu ya,” ujarnya sembari melangkah melewatiku.
“Ashe,” panggilku, menduduki kasur yang sedang ia baringi. “Bagaimana keadaanmu?”
“Dingin,” jawab Ashe dengan lemah, sangat berbeda dengan sifat aslinya yang terkadang bisa terhitung
hiperaktif.
Aku mengambil sebuah boneka dari dalam tasku, sebuah boneka kuda poni berwarna ungu – boneka
Twilight Sparkle, boneka kesukaan Ashe. “Ini, kakak kasih Twilight Sparkle ya. Buat nemenin Ashe di
sini,” ucapku, memberikan boneka itu kepada Ashe. Tangan lemah Ashe menggapai boneka di tanganku
dan ia pun segera memeluknya dengan erat.
“Maaf, Ashe,” lanjutku. “Kakak nggak tahu kalau boneka Ashe itu sangat berharga buat Ashe.”
Ashe memeluk boneka kuda poni itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam
tanganku. Panas. Tangan Ashe terasa panas. Terlalu panas, suhu yang tak normal bahkan untuk demam
sekalipun. Pandangan mataku yang tertunduk terangkat, menatap ke arah Ashe yang masih tersenyum di
kala kesakitan seperti ini.
“Kakak,” panggil Ashe. “Ashe nggak mau boneka-boneka ini dijual.”
“Apa Ashe kesepian kalau tanpa boneka-boneka ini?” tanyaku pelan.
Ashe menggeleng. “Bukan,” ujarnya. “Ashe nggak apa-apa tanpa boneka-boneka ini, Ashe tidak akan
kesepian kok, kan Ashe ada kakak,” lanjut Ashe. “Hanya saja…” Ashe menatap ke arah boneka kuda poni
yang digenggam tangan kirinya. “Ashe nggak mau boneka ini dijual, kak. Boneka ini terlalu berharga untuk
dijual kepada orang lain.”
“Terus Ashe mau diapain bonekanya?”
“Pas Ashe pergi nanti, bonekanya kasih ke orang lain ya, kak. Kasih ke anak-anak seumuran Ashe yang
tidak seberuntung Ashe, yang tidak memiliki kakak yang mau membelikan apapun yang Ashe minta,”
jawab Ashe, mengangkat boneka itu di depan wajahnya. “Boneka-boneka ini buat Ashe senang pas Ashe
sakit, Ashe mau boneka-boneka ini bisa membuat orang lain senang.”
Tanganku gemetar, seluruh tubuhku gemetar. Perkataan Ashe adalah sebuah perkataan spontan, perkataan
polos dari anak tujuh tahun yang belum sempat merasakan kekejaman dunia. Perkataan anak yang masih
baik hati, lantaran belum dikotori oleh dunia ini.
“Ashe… emang mau ke mana?” tanyaku, masih mencoba untuk tersenyum ke arah Ashe. Aku tak tahu apa
Ashe menyadarinya atau tidak, namun suaraku gemetar.
“Kakak,” panggil Ashe dengan pelan. “Ashe… Ashe ngantuk.”
“Ashe mau tidur dulu ya… Ashe sayang sama kakak.”
Tangan Ashe menggenggam tanganku, dan boneka kuda poni di tangan yang satu lagi. Ia tidur,
memiringkan tubuhnya hingga menghadap ke arahku. Ashe melihat ke arahku dengan sebuah senyuman
tersungging di bibirnya, bahkan dengan matanya yang sayu itu. Aku tahu tatapan itu, ia mengharapkan aku
untuk mengatakan hal yang sama.
Aku mengelus kepala Ashe. “Kakak juga sayang sama Ashe,” ucapku, sebelum akhirnya mata Ashe
menutup.
Tetesan air mata mengalir deras dari kedua mataku. Aku bisa merasakan nadi Ashe memelan, aku bisa
merasakan napas Ashe menipis. Dan dalam hitungan detik, semuanya sirna. Aku hanya bisa duduk,
meratapi Ashe yang tidur, untuk yang terakhir kalinya.
Sampai jumpa, kakak.


“Wuush…” Angin sebelum hujan mulai meniup dan membelai kulitku dengan lembut. Rintik-rintik kecil
mulai berjatuhan pada sore hari ini. Aroma petrikor yang begitu menenangkan kemudian tercium, aroma
yang membuatkan teringat atas masa lalu.
Ayshela Melani Siregar, nama itu terukir di batu nisan di hadapanku. Tak terasa sudah setahun berlalu
semenjak kepergianmu. Sudah setahun berlalu semenjak aku merelakanmu, adikku tersayang. Dan aku
masih merindukanmu, Ashe.
Tangan kananku memeluk sebuah boneka kuda poni berwarna ungu, boneka kesukaan Ashe. Boneka ini
seringkali Ashe peluk ketika aku membawanya dari rumah, dan tanpa sadar aku meniru kelakuannya.
“Ashe, lihat ini,” ucapku, menyodorkan boneka kuda poni itu di hadapan nisan adikku, “Lihat, hari ini aku
membawa boneka Twilight Sparkle kesukaanmu,” lanjutku, tersenyum. “Boneka yang ini aku simpan ya,
boleh ‘kan Ashe?”
Sekali lagi, angin meniup dan membelai kulitku dengan lembut. Meniup rambut panjagku ke arah yang
berlawanan dengan makam Ashe.
“Oh ya, bonekamu yang lain, tadi pagi baru saja aku sumbangkan yang terakhir. Boneka Ashe banyak sekali
ya,” kataku sembari terkekeh kecil. “Anak-anak panti itu, mereka sangat senang dengan boneka-boneka itu.
Mereka tersenyum, dan senyuman mereka terus-menerus mengingatkanku padamu.”
Selalu. Senyuman mereka selalu mengingatkanku padamu, karena kamu lah yang membuat mereka
tersenyum seperti itu. Seandainya aku menjual boneka-bonekamu ini, mungkin aku tak akan pernah melihat
senyum emreka. Senyum tulus, senyuman yang begitu polos sepertimu.
“Mereka telah menitipkan padaku kata terima kasih, untukmu Ashe, dan juga dariku.”
Boneka kuda poni yang aku kira hanya akan berakhir sebagai seonggok sampah, ternyata menjadi sesuatu
– sebuah sumber kesenangan pada orang lain. Aku sungguh berterima kasih padamu, Ashe, karena kau
memberikanku sebuah kesempatan untuk berbuat pada orang lain. Aku berterima kasih karena telah
membuatku mengerti kalau ada hal yang begitu berharga, suatu hal yang tak bisa dibeli oleh uang.
Terima kasih telah hadir di hidupku, Ashe. Terima kasih atas segalanya, adikku tersayang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *