Oleh: Princessfa Ayra Alvin

Fisika. Banyak teman-teman benci pelajaran itu, tapi kami semua suka sekali dengan gurunya. Pak Teguh, guru fisika kami memang menyenangkan. Tempat kami menceritakan segala permasalahan: mulai dari kesal dengan teman, bertengkar dengan adik, kesal dengan papa mama di rumah, capek dengan tugastugas sekolah sampai soal pacar pun, Pak Teguh siap membantu. Beliau pendengar yang baik, mendengarkan dengan sabar dan selalu punya solusi dari Al Qur’an. Seperti hari ini… “Coba Princess buka Qur’an nya seperti biasa. Insya Allah ada jalan keluarnya ya”, kata Pak Teguh saat aku datang mengeluhkan tentang Rima, sahabatku. Pak Teguh biasa begitu. Setiap murid-muridnya datang membawa masalah, kami biasa diminta membuka Al Qur’an halaman berapapun. Asal buka saja. Nanti dari halaman yang terbuka itu, Pak Teguh membacanya sebentar dalam hati, membaca tafsirnya dan memberikan jalan keluar dari masalah kami berdasar Al Qur’an itu. Pak Teguh selalu bilang Al Qur’an adalah obat dan jalan keluar dari masalah apapun. Nah, benar saja. Alhamdulillah masalahku dengan Rima beres. Setelah mencium tangan Pak Teguh dan mengucapkan terimakasih, kami segera ke kantin, aku yang traktir. Kami punya janji: siapa saja yang marah duluan, dialah yang harus mentraktir. Hal itu kami buat supaya kami ber-enam tidak mudah marah antar sahabat; Aku, Nadine, Rima, Andini, Jessica dan Rose. Begitulah pelajaran fisika yang dianggap menyebalkan oleh teman-teman akhirnya seru karena kami semua menyukai Pak Teguh. Bahkan Dimas yang terkenal sebagai anak paling nakal di sekolah pun sangat patuh pada Pak Teguh. Kumala yang ayah ibunya bercerai adalah anak yang paling sering bolak balik minta nasihat Pak Teguh. Pak Teguh selalu sabar dan selalu punya waktu buat kami. Sudah seminggu Pak Teguh sakit. Kami murid-muridnya tidak tahu apa penyakit yang diderita Pak Teguh. Selama ini di depan kami, Pak Teguh selalu tersenyum, selalu bercanda bersama dan kadang-kadang kami makan di kantin bersama. Hanya saja Rani pernah melihat Pak Teguh tampak kesakitan dan minum banyak sekali jenis obat. Saat ditanya, Pak Teguh cuma tersenyum dan berkata bahwa dia baik-baik saja karena Allah segera menyembuhkan penyakitnya. Tapi kali ini sudah seminggu Pak Teguh sakit dan tidak datang ke sekolah. Aku pun memberanikan diri bertanya pada Pak Anton: “ Pak, Pak Teguh sakit apa?”, tanyaku. Pak Anton mendadak terlihat sedih. Matanya berkaca-kaca. Tapi Pak Anton segera tersenyum kembali. “Ah Pak Teguh hanya perlu istirahat. Kalau kalian ada masalah fisika, mudah-mudahan Bapak bisa bantu. Lebih baik kamu berdoa agar Pak Teguh segera sembuh”, jawab Pak Anton. Bukan cuma itu. Nadine juga bertanya pada Bu Dian. Pertanyaan yang sama. Kemana Pak Teguh? Beliau sakit apa? Tapi seperti Pak Anton, Bu Dian cuma tersenyum dan berkata: “ Pak Teguh perlu istirahat, nak. Doakan saja ya.”, jawab Bu Dian. Tapi Nadine melihat mata Bu Dian berkaca-kaca. Persis sama seperti ketika mata Pak Anton berkaca-kaca juga. Tapi kali ini Bu Dian malah menyeka air di sudut matanya. Pak Teguh sebenarnya sakit apa ya? Aku segera menyampaikan ke teman-teman 9F. Beni, sang ketua kelas segera mengajukan usul: “Bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah pak Teguh?”, tanyanya. Kami setuju. Tapi tidak semua. Dipilihlah aku, Rima dan Beni yang akan berkunjung ke rumah Pak Teguh. Pasti ada apa-apanya sehingga guru-guru menyembunyikan keadaan Pak Teguh dari kami. Sore itu kami bertiga datang ke rumah Pak Teguh. Rumah sederhana yang tidak jauh dari sekolah. Sangat sederhana malah. Saat mengucap salam, kami menemui rumah itu sepi. Hanya ada putra Pak Teguh: Bang Ikhsan. “Bapak sudah seminggu dirawat di Rumah Sakit. Ibu juga tidak pulang-pulang menunggui bapak disana. Adik-adik ini murid bapak di sekolah ya?”, Tanya bang Ikhsan. Kami mengangguk. “Bapak sakit apa, bang?”, Tanya Beni pada bang Ikhsan. “Kanker usus”, jawab bang Ikhsan. Jawaban yang pendek tapi terdengar seperti petir di telinga kami. Oh alangkah sedihnya. Kami bertiga tidak sanggup berkata-kata. Kami terdiam sampai Rima lah yang pertama kali mampu bersuara: ”Maaf bang, sudah stadium berapa?”, Tanya Rima. Bang Ikhsan tidak segera menjawab. Ia terlihat menguatkan dirinya sendiri sebelum akhirnya menjawab pendek: “tiga. Dan kata dokter sudah menyebar kemana-mana. Sulit disembuhkan”, jawab bang Ikhsan. Aku segera menangis berpelukan dengan Rima. Beni memegang bahu bang ikhsan dan bertanya lagi: ”sudah berapa lama, bang?”, Tanya Beni. “Dua tahun. Tapi bapak selalu ingin tetap mengajar. Beliau tidak pernah mengeluh”, kata bang Ikhsan. Pak Teguh memang selalu menyembunyikan penyakitnya. Dia selalu tetap dapat tersenyum di depan murid-muridnya. “Bang Ikhsan tadi pagi ijin dari kantor. Sekarang abang mau ke kantor dulu. Ayo abang antar kalian ke Rumah Sakit menengok bapak”, kata Bang Ikhsan. “Oh, tidak perlu repot, bang. Kami bawa kendaran bersama supir”, jawab Beni. Kami segera pamit dan langsung menuju Rumah Sakit. Kabar segera meyebar ke seisi sekolah. Semua terhenyak. Ketika kami bertiga sampai di Rumah Sakit, Nadine, Rio dan Sultan sudah lebih dulu tiba. Saat kami masuk ke ruang perawatan, Pak Teguh tampak terkejut. Beni segera memeluk Pak Teguh, sementara aku, Rima dan Nadine tak kuat menangis tangis, dan Sultan hanya diam terpaku. Bu Sundari, isteri Pak Teguh, yang memulai bicara: “Kalian tahu darimana? Pak Teguh sudah meminta guru-guru merahasiakan. Kita serahkan saja pada Allah ya nak”, kata Bu Sundari. Ternyata Bu Sundari sama tegarnya dengan Pak Teguh. Sejak hari itu, kami tiap hari bergantian datang ke Rumah Sakit membacakan Al Qur’an untuk Pak Teguh. 1 hari 1 juz. Walaupun kami sibuk dengan tugas-tugas sekolah, selalu ada saja yang menyempatkan datang bergantian membacakan Al Qur’an untuk beliau. Sayang, baru sampai juz 28, Pak Teguh sudah dipanggil Allah untuk selama-lamanya. Pak Teguh wafat. Seluruh sekolah menangis. Kami tidak sempat mengkhatamkan Al Qur’an untuk Pak Teguh, sampai akhirnya Bu Yati, sang Kepala Sekolah bicara sambil menangis: “Anak-anakku, tetaplah kita teruskan 2 juz lagi. Semoga Allah mengabulkannya untuk almarhum”, kata Bu Yati. Setelah itu Bu Yati tidak sanggup bicara apa-apa lagi. Semua berduka…semua terpukul. Doa kami selalu untukmu Pak. Allah lebih menyayangi bapak. Selamat jalan, Pak… Al Qur’an untuk Pak Guru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *